Sejarah pengkajian bahasa Indonesia bertujuan menyelusuri bagaimana bahasa diungkapkan Melalui buku-buku ,istilah-istilahdan karya –karya yang menyangkut bahasa.sistem historiografi menurut Harimurti belum banyak dikenal oleh masyarakat ,metode sejara studi yang di pakai ;
Menelusuri buku atau karya-karya itu sendiri
Filologi atau menggunakan alat bantu
Tradisi yunani-romawi yang menjadi sumber tradisi arab tersebut berkembang di eropa lepas dari tradisi arab dan melalui ahli-ahli bahasa Belanda masuk ke Indonesia.yang cukup mengherankan kenyataan bahwa tradisi sansekerta tidak ada bekasnya sama sekali di Indonesia walaupun kita ketahui pengaruh kebudayaan hindu dan Buddha.
Perhatian kepada perkembangan studi tata bahasa sudah ada sejak kedatangan belanda minat kepada studi tata bahasa sudah saatnya dibangun kembali,sebab menurunnya minat baca dan perhatia para sarjana eropa hanya terbatas pada penyelidikan yang dilakukan oleh bangsa mereka saja,dan mereka juga tidak menghargai karya ahli bahasa pribumi.dan yang paling penting penyelidikan historiografi linguistic Indonesia merupakan sarana untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan selama ini ,sehingga dengan demikian dapat dicapai kemajuan yg cepat.
Dengan historiografi linguistic kta berusaha kita berusaha memahami perkembangan konsep-konsep ,teori,metode,peristilahan,dan gaya penyajian dalam bidang bahasa dari dulu hingga sekarang atau secara retrospektif,menelusuri konsep-konsep,teori,metode,peristilahan,dan gaya penyajian yang lazim pada satu masa ke tradisi yang mungkin menurunkannyasegala sesuatu yang menbicarakan bahasa jadilah materi bidang penelitian ini,oleh sebab itu kita tidak hanya akan menggunakan karya-karya teoritis .
Dua penelitian bahasa dan dipakai dalam historiografi linguistik yaitu metode filologis dan metode penelitian social yang konvensional.metode filologis yaitu mencari naskah dan metode penelitian social yang menggunakan metode wawancara.
Dalam historiografi linguistic kita tidak hanya menperhatikan pewarisan konsepsi-konsepsi ,melainkan juga reaksi atau’’ pembrontakan ‘’terhadap paradigma yang berlaku . Gramatika atau tata bahasa selalu berkerangkakan kelas kata. Oleh sebab itu penelusuran konsep-konsep tata bahasa pada hakekatnya merupakan penelusuran teori kelas kata.
Seperti diutarakan pada awal teori plato- aristoteles mengenai kelas kata melalui pelbagai perantara diambil alih para ahli tata bahasa arab ,salah satu yg paling berpengaruh ialah orang parsi bernama sibawaihi yg karyanya masih merupakan kerangka tata bahasa arab sampai hari ini..kerangka teori sibawaihi inilah yang diterapakan oleh Raja Ali Haji dalam bukunya bustanul katibina(penyengat 1857).karayanya yang lain kitab pengetahuan bahasa .juga memuat tata bahasa melayu;di bagian lain termuat kamus bahasa melayu monolingual.jadi kalu dalam bahasa arab ada ism,fi’il, dan harf, maka dalam bahasa melayupun ada ketiga kelas kata itu ,yang mengigatkan kita pada pembagian Aristoteles atas onomo,rhema,syndemos.
Di tanah semenanjung dikalangan guru pada awal abad 20 karya K.Sasrasoeganda kitab jang menjatakan djalan bahasa melajoe (semarang,1910)penulis dalam pengantarnya menyatakan bahwa buku itu disusun berdasarkan buku G.Van Wijk,tetapi terdapat perbedaan diantara keduanya:van wijk menbuat bukunya dengan urutan ;pengantar,lafal dan ejaan,pembagian kelas kata,kata kerja,kata benda,kata sifat,kata bilangan kata ganti,kata tambahan,kata depan,kata sambung,kata seru.sedangkan sasrasoeganda ;kalimat pokok,sebutan keterangan,tujuan,penderita dsb,jenis perkataan dalam kalimat,perkataan pekerjaan ,perkataan nama benda ,perkataan nama sifat,perkataan pengganti nama,perkataan bilangan,perkataan tambahan,perkataan pengantar ,perkataan penghubung,perkataan penyeru.
Buku sasrasoeganda memuat kata pengantar dari C.c. Coes yg menyatakan bahwa sasrasoeganda juga menggunakan buku lain,bukuyg dimaksud ialah Rempah-Rempah,spteek taal,Batavia ,(1905).di tanah semenanjung seperti dinyatakan di atas buku tata bahasa Melayu yg sangat berpengaruh pada awal abad ini ialah R.O. Winsedt malay grammar(1910),sesudah itu karya zainal abidin bin Ahmad (pelita bahasa melayu)(singapura 1940).
Masa –masa setelah tahun 1960 ditandai perbaruan wawasan tentang bahasa Indonesia salah satu usaha ke arah itu ialah karya A.M moeliono yg mengadakan klasifikasi kata yang baru .ia menbagi kelas kata dalam bahasa Indonesia atas nomina,verba dan partikel
Asal muasal konsep kelas kata sebagai titik pandang sejarah studi bahasa Indonesia .dengan dasar itu pula mudah bagi kita menandai perkembangan dan pewarisan konsepsi-konsepsi
Adapun contoh yang mendapat pengaruh dari Sibawahai yaitu Muh Zain dalam bukunya yg berjudul Djalan Bahasa Indonesia menyinggung mengenai kalimat isim dan kalimat fi’il.contoh yang kedua yan bersangkutan dengan bentuk verba pasif yang tidak mengandung prefis meN yang sudah dijelaskan oleh Verhaar .tidak usah diragukan lagi.bahwa masalah ini ada dalam jalur Hollander-wijk-sasrasoeganda-alijahbana..
Dengan meliha jalur pewarisan di atas kita dapat mengikuti perkembangan yg normal dalam sejarah pengkajian bahasa indonesia . tetapi karya Armija pane, dan Fokker yg menyusun tata bahasa tidak berdasarkan kelas kata ,melainkan dengan kerangka sintaksis yang penyelidikannya diintensifkan kembali oleh aliran transformasi 10 tahun kemudian .
Senin, 11 April 2011
MAHASISWA SASTRA BELAJAR SEJARAH
Siapa yang bilang sastra tidak belajar sejarah,melalui mata kuliah junalistik sastra kami belajar sejarah ke taman prasejarah leang-leang. Tugas kami untuk mendapat informasi mengenai taman prasejarah ini kemudian membuat laporan perjalanan (Reportase). Hari itu cuaca panas waktu menunjukkan pukul 12.20 wita mobil yang ditunggu tak kunjung datang padahal waktu yang disepakati adalah 12.00 wita. Berhubung saya yang diberi tugas oleh dosen jurnalistik untuk mengurus mobil saya merasa telah mengecewakan teman-teman yang sudah menunggu dari jam 11.00 wita. Saya menghubungi supir yang memang sudah saya minta nomor hp-nya sebelumnya.
’’tunggu setengah jam lagi dek’ saya masih di kota’’!
begitu kata-kata yang terucap dari mulut supir yang saya hubungi.
Setelah setengah jam berlalu mobil yang kami tunggu-tunggu telah berada di hadapan kami.saya pun sibuk menelepon teman-teman yang belum datang atau yang sedang menunaikan shalat Dhuhur.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.00 wita namun bus masih belum berangkat karena masih ada teman yang belum datang.Pak supir yang tadi nampak santai mulai menegur saya.dek’ masih ada yang ditunggu? ‘’Masih ada satu orang pak’ ’jawabku.Di saat semua orang tengah pusing .teman-teman yang lain malah sedang asik berfose di samping jalan dekat parkiran rektorat inilah ciri khas dari sastra indonesia angkatan 2009 atau Narasi 09 yang tidak pernah mau melewatkan sedikit pun momen-momen nya tanpa mengabadikannya. Tidak lama kemudian teman yang ditunggu-tunggu tadi telah berada di atas mobil,selanjutnya saya menghubungi dosen yang masih berada di gedung rektorat untuk segera turun sebab mobil sudah lama menunggu.
Perjalanan pun dimulai, perlahan-lahan mobil mulai menjauh dari kampus unhas , Inha mahasiswi angkatan 2009 yang tadi kelihatan diam tidak mampu lagi menbendung hastratnya untuk mengoceh. Bersama teman disampingnya yaitu Budi santoso, mahasiswa angkatan 2008 yang ikut juga dalam rombongan. Dia terus mengomentari semua yang ada disekitarnya mahasiswi ini memang dikenal oleh teman-temannya cerewet mulutnya tidak pernah berhenti berbicara namun hal ini tidak pernah dianggap menggangu oleh teman disekitarnya malah rasanya ada yang kurang bagai sayur tanpa garam, kalau tidak ada dia.
Dia mengomentari setiap yang dilihatnya , katanya biar dia tidak mabuk kendaraan. Yang lain pun dapat mengerti hal ini. Coto perintis jadi sasarannya katanya polisi perintis yang dibuat menjadi soto makanya namanya coto perintis. Itulah kata-kata yang terdengar jelas di telinga saya. Budi yang berada di sampingnya menjadi tertawa mendengar hal ini. Tiba-tiba dosen kami yang tadi sedang asik berbincang dengan mahasiswi yang ada disampingnya yaitu bisma dan ipha mahasiswi asal kota kelahiran mantan presiden ke-3 indonesia BJ.Habibi pare-pare . angkat bicara pula ‘’daripada orang pangkep yang terkenal dengan sop saudara tega menjadikan saudaranya sendiri sop kan namanya sop saudara’’ begitu kata dosen ini. Teman saya yang berbadan besar yang bernama Ashar yang yang berdiri di samping pintu bersama saya yang dari tadi diam tertawa terbahak-bahak. Mahasiswa yang lain pun ikut tertawa tetapi tertawanya bukan karena mendengar lelucon dosen kami tadi tetapi malah karna mendengar si ashar tadi ketawa maklum teman saya yang satu ini memang dikenal dengan tawanya yang khas. Waktu terus berlalu tidak terasa kami telah berada di wilayah gowa. Inha pun kembali berkomentar ‘’semuanya diam kita memasuki wilayah maros ‘’
yang lain Nampak serius menanggapi peryataan Inha ini setelah itu dia kenbali berkata ‘’alhamdulillah kita selamat’’ dengan tingkah seperti sule yang sering dilihat di opera van java yang tayang jam 9 malam di trans 7. Hal ini pun tidak pelak menbuat yang lain agak jengkel tetapi terhibur. Jengkel karena merasa dipermainkan sebab menganggap kata-kata inha tadi adalah famali atau semacam larangan adat yang berlaku di maros tetapi tak lama kemudian akhirnya tertawa kembali.
Ada-ada saja tingkah laku mahasiswa sastra Indonesia angkatan 2009, ketika memasuki kawasan maros lampu jalan lalu-lintas merah dan bus harus berhenti. Di samping bus kami berhenti di sebelah kanan bus ada kantor polisi maros. Tetapi tentu bukan ini yang menbuat mata terbelalak tetapi hal yang lain berbeda di samping kiri dua orang wanita yang berada di samping kami menjadi pusat perhatian. maklum cowok pasti matanya terbelalak kalau melihat hal seperti ini dan termasuk saya sendiri. Tiba-tiba semua kompak mengucapkan Prikitiu kata yang biasa diucapkan oleh sule ini untuk menggoda para wanita seperti di opera van java untuk menggoda dua orang wanita yang berboncengan tadi.
‘’Selamat datang di taman prasejarah leang-leang maros’’tulisan ini menyambut kami, kata sambutan ini terpajang tepat di pintu gerbang masuk ke leang-leang tempat yang kami akan kunjungi hari ini. Selanjutnya kami harus menempuh beberapa km lagi untuk dapat melihat objek yang akan kami kunjungi. Namun keramahan dalam sambutan di pintu gerbang masuk tadi tidak seramah dengan jalanan masuk yang kami tempuh. Kurang lebih sekitar 5 kilometer kami lalui laksana sedang mendengar lagu dangdut yang membuat tubuh ini bergoyang tanpa kendali bahkan sesekali terdengar kata aow.. dari seorang teman karna terbentur kepalanya di kaca jendela mobil. Harusnya hal ini menjadi perhatian serius bagi pihak pemerintah sebab jalanan masuk ke leang-leang ini sudah rusak parah dan ini akan banyak sedikit menpengaruhi minat para pengunjung untuk berkunjung ke tempat ini melihat kondisi jalanan yang rusak parah.
Senyum para pegawai menyambut kami ketika memasuki kawasan leang-leang tidak tahu apa memang selalu seperti ini tetapi yang jelas yang datang kali ini pasti spesial karna mahasiswa dari unhas. Satu-persatu mahasiswa keluar dari mobil. Dosen pembimbing mata kuliah jurnalistik kami yang biasa disapa pak Dahlan langsung menuju ke tempat pembelian karcis dan memanggil saya dan seorang teman mahasiswa perempuan, Bisma untuk menemaninyanya. Dosen yang juga sebagai kepala bagian humas di unhas ini mengisi buku tamu jumlah mahasiswa yang ikut adalah 29 orang pegawai harga untuk satu karcis adalah Rp.5000,00 jadi jumlah yang harus kami bayar sebenarnya adalahRp 145.000,00 namun karna kami menbeli karcis secara borongan maka kami di beri diskon jadi yang di hitung itu hanya 25 maka yang harus kami bayar Rp 125.000,00.
Dua orang pegawai mememani kami sebagai pemandu yang akan menjelaskan seluk-beluk mengenai goa leang-leang ini. Taman Prasejarah Leang-Leang terletak di Kecamatan Batimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Di taman ini ada ratusan goa prasejarah yang tersebar di perbukitan cadas (karst) Maros-Pangkep. Dalam bahasa Makassar, leang artinya goa. Serupa dengan kata liang yang artinya lubang.
Hal yang menarik dari tempat ini adalah adanya lukisan-lukisan dinding pada goa-goa di Leang-Leang. Dari gambar-gambar pada dinding goa dan alat-alat yang ditemukan, kita bisa tahu seperti apa kehidupan manusia prasejarah. Salah satu gambar telapak tangan diperkirakan sebagai cap telapak tangan milik salah satu anggota suku yang telah mengikuti ritual potong jari. Ritual itu dilakukan sebagai tanda berduka atas kematian orang terdekatnya. Dan menurut pemandu kami . hal ini dapat dibuktikan di papua ritual potong jari ini masih berlaku sampai saat ini.
Goa Petta Kere
Gambar-gambar di kedua goa banyak yang berwarna merah. Warna tersebut terbuat dari bahan pewarna alami yang dapat meresap kuat ke dalam pori-pori batu sehingga tidak bisa terhapus dan bertahan ribuan tahun. Coba kalau manusia prasejarah itu menggambar dengan grafit (pinsil),
Gambar tangan di goa petta kere.
mudah sekali dihapusnya.Biasanya yang paling pertama menemukan goa adalah para kelelawar. Tapi goa di Leang-Leang ditemukan oleh Mister Van Heekeren dan Miss Heeren Palm. Dua arkeolog Belanda ini menemukan gambar-gambar pada dinding goa (rock painting) di Goa Pettae dan Petta Kere, dua goa di Leang-leang, pada tahun 1950.
Usia lukisan-lukisan purba di Leang-Leang diperkirakan 5.000 tahun. Beberapa arkeolog bahkan berpendapat bahwa beberapa di antara goa tersebut telah didiami sejak 8.000 - 3.000 SM (Sebelum Masehi). Mungkin gambarnya tidak seperti komik-komik yang biasa kita baca, tapi gambar-gambarnya bagus dan menarik Untuk mencapai goa ini wisatawan harus menaiki 26 anak tangga.
Goa Petta Kere berada 300 meter di sebelah Gua Pettae. Untuk mencapai goa ini wisatawan harus mendaki 64 anak tangga. anak tangganya. ya kalau mau ke Goa Petta Kere. Pemandangan yang mengelilingi kawasan Leang-leang sangat indah. Jadi tempat ini cocok untuk wisata budaya juga wisata alam. Di lokasi ini terdapat empat gazebo yang bisa digunakan wisatawan untuk beristirahat. Tempat yang tepat setelah mendaki lebih dari 50 anak tangga.
Leang pettae
Leang Pettae menghadap ke barat. Gambar yang ditemukan pada goa ini adalah lima gambar telapak tangan dan satu gambar babi rusa meloncat dengan anak panah di dadanya. Selain gambar, ditemukan pula artefak serpih, bilah, serta kulit kerang yang terdeposit pada mulut goa.. Peninggalan yang ditemukan pada goa ini adalah dua gambar babi rusa, 27 gambar telapak tangan, alat serpih bilah, dan mata panah.
Sampah dapur yang berupa kulit kerang
salah satu bukti bahwa tempat ini ada kehidupan dengan adanya limbah dapur yang berupa kulit kerang ini juga menbuktikan bahwa di tempat ini juga dahulunya merupakan lautan.
Setelah puas melihat-lihat dan mendapat informasi yang cukup mengenai leang pettae dan leang petta kere kami pun bergegas meninggalkan ke dua goa itu tetapi baru beberapa langkah meninggalkan goa itu tetes-tetes air hujan turun deras kami kemudian berlindung di bawah balai-balai. lagi-lagi ciri khas dari angkatan 2009 terlihat jelas saat hujan pun mereka tetap ngotot untuk di foto, bahkan salah satu dari teman kami yaitu A. Adzan Ashari atau yang biasa kami panggil benjo terjatuh karena berlari untuk di foto setelah dalam perjalanan tadi dia berada di belakang rombongan. Perut semakin tidak bisa komproni, setelah hujan reda saatnya makan siang berhubung dari tadi perut sudah keroncongan. Dengan lahapnya setiap peserta kegiatan ini menghabiskan makanan yang sudah kami pesan dari kampus ini . Hari hampir sore sopir sudah menberi tanda ,para peserta kegiatan ini langsung menuju ke mobil dan mengambil posisinya masing-masing .
Dalam perjalanan pulang para peserta lebih banyak diam karena sudah kelelahan ,setengah jam meninggalkan taman prasejarah leang-leang anak narasi kembali beraksi tetapi kali ini para ceweknya. Mereka berdiri di samping pintu sambil foto-foto awalnya saya melarang takut akan terjadi apa-apa nantinya tetapi mereka terus memaksa jadi saya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka menggodai setiap orang yang di jumpai dalam perjalanan pulang baik itu anak-anak maupun dewasa. Mobil terus melaju dan tidak terasa kami sudah berada di depan kantor rektorat unhas kami turun satu-persatu dari mobil dan langsung mengambil posisi di samping rektorat di bawah papan rektorat kami berfoto bersama dan ini sekaligus akhir dari perjalanan kami.
’’tunggu setengah jam lagi dek’ saya masih di kota’’!
begitu kata-kata yang terucap dari mulut supir yang saya hubungi.
Setelah setengah jam berlalu mobil yang kami tunggu-tunggu telah berada di hadapan kami.saya pun sibuk menelepon teman-teman yang belum datang atau yang sedang menunaikan shalat Dhuhur.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.00 wita namun bus masih belum berangkat karena masih ada teman yang belum datang.Pak supir yang tadi nampak santai mulai menegur saya.dek’ masih ada yang ditunggu? ‘’Masih ada satu orang pak’ ’jawabku.Di saat semua orang tengah pusing .teman-teman yang lain malah sedang asik berfose di samping jalan dekat parkiran rektorat inilah ciri khas dari sastra indonesia angkatan 2009 atau Narasi 09 yang tidak pernah mau melewatkan sedikit pun momen-momen nya tanpa mengabadikannya. Tidak lama kemudian teman yang ditunggu-tunggu tadi telah berada di atas mobil,selanjutnya saya menghubungi dosen yang masih berada di gedung rektorat untuk segera turun sebab mobil sudah lama menunggu.
Perjalanan pun dimulai, perlahan-lahan mobil mulai menjauh dari kampus unhas , Inha mahasiswi angkatan 2009 yang tadi kelihatan diam tidak mampu lagi menbendung hastratnya untuk mengoceh. Bersama teman disampingnya yaitu Budi santoso, mahasiswa angkatan 2008 yang ikut juga dalam rombongan. Dia terus mengomentari semua yang ada disekitarnya mahasiswi ini memang dikenal oleh teman-temannya cerewet mulutnya tidak pernah berhenti berbicara namun hal ini tidak pernah dianggap menggangu oleh teman disekitarnya malah rasanya ada yang kurang bagai sayur tanpa garam, kalau tidak ada dia.
Dia mengomentari setiap yang dilihatnya , katanya biar dia tidak mabuk kendaraan. Yang lain pun dapat mengerti hal ini. Coto perintis jadi sasarannya katanya polisi perintis yang dibuat menjadi soto makanya namanya coto perintis. Itulah kata-kata yang terdengar jelas di telinga saya. Budi yang berada di sampingnya menjadi tertawa mendengar hal ini. Tiba-tiba dosen kami yang tadi sedang asik berbincang dengan mahasiswi yang ada disampingnya yaitu bisma dan ipha mahasiswi asal kota kelahiran mantan presiden ke-3 indonesia BJ.Habibi pare-pare . angkat bicara pula ‘’daripada orang pangkep yang terkenal dengan sop saudara tega menjadikan saudaranya sendiri sop kan namanya sop saudara’’ begitu kata dosen ini. Teman saya yang berbadan besar yang bernama Ashar yang yang berdiri di samping pintu bersama saya yang dari tadi diam tertawa terbahak-bahak. Mahasiswa yang lain pun ikut tertawa tetapi tertawanya bukan karena mendengar lelucon dosen kami tadi tetapi malah karna mendengar si ashar tadi ketawa maklum teman saya yang satu ini memang dikenal dengan tawanya yang khas. Waktu terus berlalu tidak terasa kami telah berada di wilayah gowa. Inha pun kembali berkomentar ‘’semuanya diam kita memasuki wilayah maros ‘’
yang lain Nampak serius menanggapi peryataan Inha ini setelah itu dia kenbali berkata ‘’alhamdulillah kita selamat’’ dengan tingkah seperti sule yang sering dilihat di opera van java yang tayang jam 9 malam di trans 7. Hal ini pun tidak pelak menbuat yang lain agak jengkel tetapi terhibur. Jengkel karena merasa dipermainkan sebab menganggap kata-kata inha tadi adalah famali atau semacam larangan adat yang berlaku di maros tetapi tak lama kemudian akhirnya tertawa kembali.
Ada-ada saja tingkah laku mahasiswa sastra Indonesia angkatan 2009, ketika memasuki kawasan maros lampu jalan lalu-lintas merah dan bus harus berhenti. Di samping bus kami berhenti di sebelah kanan bus ada kantor polisi maros. Tetapi tentu bukan ini yang menbuat mata terbelalak tetapi hal yang lain berbeda di samping kiri dua orang wanita yang berada di samping kami menjadi pusat perhatian. maklum cowok pasti matanya terbelalak kalau melihat hal seperti ini dan termasuk saya sendiri. Tiba-tiba semua kompak mengucapkan Prikitiu kata yang biasa diucapkan oleh sule ini untuk menggoda para wanita seperti di opera van java untuk menggoda dua orang wanita yang berboncengan tadi.
‘’Selamat datang di taman prasejarah leang-leang maros’’tulisan ini menyambut kami, kata sambutan ini terpajang tepat di pintu gerbang masuk ke leang-leang tempat yang kami akan kunjungi hari ini. Selanjutnya kami harus menempuh beberapa km lagi untuk dapat melihat objek yang akan kami kunjungi. Namun keramahan dalam sambutan di pintu gerbang masuk tadi tidak seramah dengan jalanan masuk yang kami tempuh. Kurang lebih sekitar 5 kilometer kami lalui laksana sedang mendengar lagu dangdut yang membuat tubuh ini bergoyang tanpa kendali bahkan sesekali terdengar kata aow.. dari seorang teman karna terbentur kepalanya di kaca jendela mobil. Harusnya hal ini menjadi perhatian serius bagi pihak pemerintah sebab jalanan masuk ke leang-leang ini sudah rusak parah dan ini akan banyak sedikit menpengaruhi minat para pengunjung untuk berkunjung ke tempat ini melihat kondisi jalanan yang rusak parah.
Senyum para pegawai menyambut kami ketika memasuki kawasan leang-leang tidak tahu apa memang selalu seperti ini tetapi yang jelas yang datang kali ini pasti spesial karna mahasiswa dari unhas. Satu-persatu mahasiswa keluar dari mobil. Dosen pembimbing mata kuliah jurnalistik kami yang biasa disapa pak Dahlan langsung menuju ke tempat pembelian karcis dan memanggil saya dan seorang teman mahasiswa perempuan, Bisma untuk menemaninyanya. Dosen yang juga sebagai kepala bagian humas di unhas ini mengisi buku tamu jumlah mahasiswa yang ikut adalah 29 orang pegawai harga untuk satu karcis adalah Rp.5000,00 jadi jumlah yang harus kami bayar sebenarnya adalahRp 145.000,00 namun karna kami menbeli karcis secara borongan maka kami di beri diskon jadi yang di hitung itu hanya 25 maka yang harus kami bayar Rp 125.000,00.
Dua orang pegawai mememani kami sebagai pemandu yang akan menjelaskan seluk-beluk mengenai goa leang-leang ini. Taman Prasejarah Leang-Leang terletak di Kecamatan Batimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Di taman ini ada ratusan goa prasejarah yang tersebar di perbukitan cadas (karst) Maros-Pangkep. Dalam bahasa Makassar, leang artinya goa. Serupa dengan kata liang yang artinya lubang.
Hal yang menarik dari tempat ini adalah adanya lukisan-lukisan dinding pada goa-goa di Leang-Leang. Dari gambar-gambar pada dinding goa dan alat-alat yang ditemukan, kita bisa tahu seperti apa kehidupan manusia prasejarah. Salah satu gambar telapak tangan diperkirakan sebagai cap telapak tangan milik salah satu anggota suku yang telah mengikuti ritual potong jari. Ritual itu dilakukan sebagai tanda berduka atas kematian orang terdekatnya. Dan menurut pemandu kami . hal ini dapat dibuktikan di papua ritual potong jari ini masih berlaku sampai saat ini.
Goa Petta Kere
Gambar-gambar di kedua goa banyak yang berwarna merah. Warna tersebut terbuat dari bahan pewarna alami yang dapat meresap kuat ke dalam pori-pori batu sehingga tidak bisa terhapus dan bertahan ribuan tahun. Coba kalau manusia prasejarah itu menggambar dengan grafit (pinsil),
Gambar tangan di goa petta kere.
mudah sekali dihapusnya.Biasanya yang paling pertama menemukan goa adalah para kelelawar. Tapi goa di Leang-Leang ditemukan oleh Mister Van Heekeren dan Miss Heeren Palm. Dua arkeolog Belanda ini menemukan gambar-gambar pada dinding goa (rock painting) di Goa Pettae dan Petta Kere, dua goa di Leang-leang, pada tahun 1950.
Usia lukisan-lukisan purba di Leang-Leang diperkirakan 5.000 tahun. Beberapa arkeolog bahkan berpendapat bahwa beberapa di antara goa tersebut telah didiami sejak 8.000 - 3.000 SM (Sebelum Masehi). Mungkin gambarnya tidak seperti komik-komik yang biasa kita baca, tapi gambar-gambarnya bagus dan menarik Untuk mencapai goa ini wisatawan harus menaiki 26 anak tangga.
Goa Petta Kere berada 300 meter di sebelah Gua Pettae. Untuk mencapai goa ini wisatawan harus mendaki 64 anak tangga. anak tangganya. ya kalau mau ke Goa Petta Kere. Pemandangan yang mengelilingi kawasan Leang-leang sangat indah. Jadi tempat ini cocok untuk wisata budaya juga wisata alam. Di lokasi ini terdapat empat gazebo yang bisa digunakan wisatawan untuk beristirahat. Tempat yang tepat setelah mendaki lebih dari 50 anak tangga.
Leang pettae
Leang Pettae menghadap ke barat. Gambar yang ditemukan pada goa ini adalah lima gambar telapak tangan dan satu gambar babi rusa meloncat dengan anak panah di dadanya. Selain gambar, ditemukan pula artefak serpih, bilah, serta kulit kerang yang terdeposit pada mulut goa.. Peninggalan yang ditemukan pada goa ini adalah dua gambar babi rusa, 27 gambar telapak tangan, alat serpih bilah, dan mata panah.
Sampah dapur yang berupa kulit kerang
salah satu bukti bahwa tempat ini ada kehidupan dengan adanya limbah dapur yang berupa kulit kerang ini juga menbuktikan bahwa di tempat ini juga dahulunya merupakan lautan.
Setelah puas melihat-lihat dan mendapat informasi yang cukup mengenai leang pettae dan leang petta kere kami pun bergegas meninggalkan ke dua goa itu tetapi baru beberapa langkah meninggalkan goa itu tetes-tetes air hujan turun deras kami kemudian berlindung di bawah balai-balai. lagi-lagi ciri khas dari angkatan 2009 terlihat jelas saat hujan pun mereka tetap ngotot untuk di foto, bahkan salah satu dari teman kami yaitu A. Adzan Ashari atau yang biasa kami panggil benjo terjatuh karena berlari untuk di foto setelah dalam perjalanan tadi dia berada di belakang rombongan. Perut semakin tidak bisa komproni, setelah hujan reda saatnya makan siang berhubung dari tadi perut sudah keroncongan. Dengan lahapnya setiap peserta kegiatan ini menghabiskan makanan yang sudah kami pesan dari kampus ini . Hari hampir sore sopir sudah menberi tanda ,para peserta kegiatan ini langsung menuju ke mobil dan mengambil posisinya masing-masing .
Dalam perjalanan pulang para peserta lebih banyak diam karena sudah kelelahan ,setengah jam meninggalkan taman prasejarah leang-leang anak narasi kembali beraksi tetapi kali ini para ceweknya. Mereka berdiri di samping pintu sambil foto-foto awalnya saya melarang takut akan terjadi apa-apa nantinya tetapi mereka terus memaksa jadi saya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka menggodai setiap orang yang di jumpai dalam perjalanan pulang baik itu anak-anak maupun dewasa. Mobil terus melaju dan tidak terasa kami sudah berada di depan kantor rektorat unhas kami turun satu-persatu dari mobil dan langsung mengambil posisi di samping rektorat di bawah papan rektorat kami berfoto bersama dan ini sekaligus akhir dari perjalanan kami.
Langganan:
Postingan (Atom)