KATA PENGANTAR
Assalamu Alaikum Wr…Wb….
Alhamdulillah,puji syukur atas limpahan Rahmat serta Inayah yang diberikan oleh Allah SWT.Karena berkat limpahan Rahmat dan Inayah-Nyalah sehingga makalah ini dapat diselesaikan.
Makalah ini merupakan tugas akhir yang yang diberikan sebagai pengganti ujian akhir mata kuliah Telaah Drama, ,dimana dalam makalah ini penulis mencoba menganalisis drama I tolok berdasarkan pendekatan semiotika.
Selanjutnya penulis sangat menyadari bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan serta kesalahan.Olehnya itu,penulis sangat mengharapkan kritikan serta saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak,sehingga pada pembuatan makalah selanjutnya dapat lebih baik dan sesuai apa yang diharapkan.
Terakhir semoga makalah ini dapat bermanfaat kepada pembaca serta kepada orang-orang yang membutuhkan.Wassalam.
Penyusun
DAFTAR ISI
Halaman Sampul
Kata Pengantar……………………………………………………………….1
Daftar Isi……………………………………………………………………...2
BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………..3
Teori Semiotika menurut para ahli
BAB II PEMBAHASAN……………………………………………………7
Analisis semiotika dalam Drama I Tolok karya Rahman Arge
BAB III PENUTUP
1.Simpulan……………………………………………………………11
2.Saran………………………………………………………………..11
Daftar Pustaka………………………………………………………………..12
BAB I
PENDAHULUAN
Teori Semiotika Menurut Beberapa Ahli
1. C.S PEIRCE
Peirce mengemukakan teori segitiga makna atau triangle meaning yang terdiri dari tiga elemen utama, yakni tanda (sign), object, dan interpretant.
Tanda adalah sesuatu yang berbentuk fisik yang dapat ditangkap oleh panca indera manusia dan merupakan sesuatu yang merujuk (merepresentasikan) hal lain di luar tanda itu sendiri. Tanda menurut Peirce terdiri dari Simbol (tanda yang muncul dari kesepakatan), Ikon (tanda yang muncul dari perwakilan fisik) dan Indeks (tanda yang muncul dari hubungan sebab-akibat). Sedangkan acuan tanda ini disebut objek.
Objek atau acuan tanda adalah konteks sosial yang menjadi referensi dari tanda atau sesuatu yang dirujuk tanda.
Interpretant atau pengguna tanda adalah konsep pemikiran dari orang yang menggunakan tanda dan menurunkannya ke suatu makna tertentu atau makna yang ada dalam benak seseorang tentang objek yang dirujuk sebuah tanda.Hal yang terpenting dalam proses semiosis adalah bagaimana makna muncul dari sebuah tanda ketika tanda itu digunakan orang saat berkomunikasi.
Contoh: Saat seorang gadis mengenakan rok mini, maka gadis itu sedang mengomunikasi mengenai dirinya kepada orang lain yang bisa jadi memaknainya sebagai simbol keseksian. Begitu pula ketika Nadia Saphira muncul di film Coklat Strowberi dengan akting dan penampilan fisiknya yang memikat, para penonton bisa saja memaknainya sebagai icon wanita muda cantik dan menggairahkan.
2. FERDINAND DE SAUSSURE
Menurut Saussure, tanda terdiri dari: Bunyi-bunyian dan gambar, disebut signifier atau penanda, dan konsep-konsep dari bunyi-bunyian dan gambar, disebut signified.
Dalam berkomunikasi, seseorang menggunakan tanda untuk mengirim makna tentang objek dan orang lain akan menginterpretasikan tanda tersebut. Objek bagi Saussure disebut “referent”. Hampir serupa dengan Peirce yang mengistilahkan interpretant untuk signified dan object untuk signifier, bedanya Saussure memaknai “objek” sebagai referent dan menyebutkannya sebagai unsur tambahan dalam proses penandaan. Contoh: ketika orang menyebut kata “anjing” (signifier) dengan nada mengumpat maka hal tersebut merupakan tanda kesialan (signified). Begitulah, menurut Saussure, “Signifier dan signified merupakan kesatuan, tak dapat dipisahkan, seperti dua sisi dari sehelai kertas.” (Sobur, 2006).
3. ROLAND BARTHES
Roland Barthes adalah penerus pemikiran Saussure. Saussure tertarik pada cara kompleks pembentukan kalimat dan cara bentuk-bentuk kalimat menentukan makna, tetapi kurang tertarik pada kenyataan bahwa kalimat yang sama bisa saja menyampaikan makna yang berbeda pada orang yang berbeda situasinya.
Roland Barthes meneruskan pemikiran tersebut dengan menekankan interaksi antara teks dengan pengalaman personal dan kultural penggunanya, interaksi antara konvensi dalam teks dengan konvensi yang dialami dan diharapkan oleh penggunanya. Gagasan Barthes ini dikenal dengan “order of signification”, mencakup denotasi (makna sebenarnya sesuai kamus) dan konotasi (makna ganda yang lahir dari pengalaman kultural dan personal). Di sinilah titik perbedaan Saussure dan Barthes meskipun Barthes tetap mempergunakan istilah signifier-signified yang diusung Saussure.
Barthes juga melihat aspek lain dari penandaan yaitu “mitos” yang menandai suatu masyarakat. “Mitos” menurut Barthes terletak pada tingkat kedua penandaan, jadi setelah terbentuk sistem sign-signifier-signified, tanda tersebut akan menjadi penanda baru yang kemudian memiliki petanda kedua dan membentuk tanda baru. Jadi, ketika suatu tanda yang memiliki makna konotasi kemudian berkembang menjadi makna denotasi, maka makna denotasi tersebut akan menjadi mitos.
Misalnya: Pohon beringin yang rindang dan lebat menimbulkan konotasi “keramat” karena dianggap sebagai hunian para makhluk halus. Konotasi “keramat” ini kemudian berkembang menjadi asumsi umum yang melekat pada simbol pohon beringin, sehingga pohon beringin yang keramat bukan lagi menjadi sebuah konotasi tapi berubah menjadi denotasi pada pemaknaan tingkat kedua. Pada tahap ini, “pohon beringin yang keramat” akhirnya dianggap sebagai sebuah Mitos.
4. JACQUES DERRIDA
Derrida terkenal dengan model semiotika Dekonstruksi-nya. Dekonstruksi, menurut Derrida, adalah sebagai alternatif untuk menolak segala keterbatasan penafsiran ataupun bentuk kesimpulan yang baku. Konsep Dekonstruksi –yang dimulai dengan konsep demistifikasi, pembongkaran produk pikiran rasional yang percaya kepada kemurnian realitas—pada dasarnya dimaksudkan menghilangkan struktur pemahaman tanda-tanda (siginifier) melalui penyusunan konsep (signified).
Dalam teori Grammatology, Derrida menemukan konsepsi tak pernah membangun arti tanda-tanda secara murni, karena semua tanda senantiasa sudah mengandung artikulasi lain (Subangun, 1994 dalam Sobur, 2006: 100). Dekonstruksi, pertama sekali, adalah usaha membalik secara terus-menerus hirarki oposisi biner dengan mempertaruhkan bahasa sebagai medannya. Dengan demikian, yang semula pusat, fondasi, prinsip, diplesetkan sehingga berada di pinggir, tidak lagi fondasi, dan tidak lagi prinsip. Strategi pembalikan ini dijalankan dalam kesementaraan dan ketidakstabilan yang permanen sehingga bisa dilanjutkan tanpa batas.
Dekonstruksi membuka luas pemaknaan sebuah tanda, sehingga makna-makna dan ideologi baru mengalir tanpa henti dari tanda tersebut. Munculnya ideologi baru bersifat menyingkirkan (“menghancurkan” atau mendestruksi) makna sebelumnya, terus-menerus tanpa henti hingga menghasilkan puing-puing makna dan ideologi yang tak terbatas.
Berbeda dari Baudrillard yang melihat tanda sebagai hasil konstruksi simulatif suatu realitas, Derrida lebih melihat tanda sebagai gunungan realitas yang menyembunyikan sejumlah ideologi yang membentuk atau dibentuk oleh makna tertentu. Makna-makna dan ideologi itu dibongkar melalui teknik dekonstruksi. Namun, baik Baurillard maupun Derrida sepakat bahwa di balik tanda tersembunyi ideologi yang membentuk makna tanda tersebut.
5. UMBERTO ECO
Stephen W. Littlejohn (1996) menyebut Umberto Eco sebagai ahli semiotikan yang menghasilkan salah satu teori mengenai tanda yang paling komprehensif dan kontemporer. Menurut Littlejohn, teori Eco penting karena ia mengintegrasikan teori-teori semiotika sebelumnya dan membawa semiotika secara lebih mendalam (Sobur, 2006).
Eco menyimbulkan bahwa “satu tanda bukanlah entitas semiotik yang dapat ditawar, melainkan suatu tempat pertemuan bagi unsur-unsur independen (yang berasal dari dua sistem berbeda dari dua tingkat yang berbeda yakni ungkapan dan isi, dan bertemu atas dasar hubungan pengkodean”. Eco menggunakan “kode-s” untuk menunjukkan kode yang dipakai sesuai struktur bahasa. Tanpa kode, tanda-tanda suara atau grafis tidak memiliki arti apapun, dan dalam pengertian yang paling radikal tidak berfungsi secara linguistik. Kode-s bisa bersifat “denotatif” (bila suatu pernyataan bisa dipahami secara harfiah), atau “konotatif” (bila tampak kode lain dalam pernyataan yang sama). Penggunaan istilah ini hampir serupa dengan karya Saussure, namun Eco ingin memperkenalkan pemahaman tentang suatu kode-s yang lebih bersifat dinamis daripada yang ditemukan dalam teori Saussure, di samping itu sangat terkait dengan teori linguistik masa kini.
BAB II
PEMBAHASAN
Umberto Eco memberi sumbangan pemikiran orisinal pada semiotika; secara bergurau dia memelesetkan semiotika sebagai "ilmu berbohong." Tulis dia, "Semiotika ialah studi tentang segala yang bisa diambil secara signifikan sebagai pengganti (tanda) untuk sesuatu yang lain. Yang lain ini tidak perlu ada atau benar-benar di suatu tempat persis ketika sebuah tanda menggantinya. Maka pada prinsipnya semiotika merupakan disiplin untuk mempelajari segala sesuatu yang bisa digunakan untuk berbohong. Jika sesuatu gagal digunakan untuk menceritakan kebohongan, sebaliknya ia gagal digunakan untuk menceritakan kebenaran---bahkan tentu mustahil ia bisa digunakan untuk bercerita apa pun. Saya pikir definisi sebagai teori untuk berbohong harusnya ditempuh sebagai program yang cukup komprehensif bagi semiotika secara umum."
Tanda (sign) dan simbol (symbol) merupakan sesuatu yang kompleks dan sulit. Di satu sisi semiotika bukan berarti bisa menyangkut segala-galanya, tanda dan simbol ternyata tidak melulu berupa teks (tertulis), melainkan bisa mulai dari proses alamiah komunikasi spontan hingga ke sistem budaya yang kompleks, kode, komunikasi visual, dan komunikasi massa. Di sinilah karyanya Opera Aperta (1962) menjadi landasan yang mengundang pembaca (pemirsa) agar terlibat lebih aktif menafsirkan dan kreatif
Eco menganggap tugas ahli semiotika bagaikan menjelajahi hutan, dan ingin memusatkan perhatian pada modifikasi sistem tanda. Eco kemudian mengubah konsep tanda menjadi konsep fungsi tanda. Eco menyimbulkan bahwa “satu tanda bukanlah entitas semiotik yang dapat ditawar, melainkan suatu tempat pertemuan bagi unsur-unsur independen (yang berasal dari dua sistem berbeda dari dua tingkat yang berbeda yakni ungkapan dan isi, dan bertemu atas dasar hubungan pengkodean”. Eco menggunakan “kode-s” untuk menunjukkan kode yang dipakai sesuai struktur bahasa. Tanpa kode, tanda-tanda suara atau grafis tidak memiliki arti apapun, dan dalam pengertian yang paling radikal tidak berfungsi secara linguistik. Kode-s bisa bersifat “denotatif” (bila suatu pernyataan bisa dipahami secara harfiah), atau “konotatif” (bila tampak kode lain dalam pernyataan yang sama).
Kode – kode yang diacu dalam drama I Tolok
Drama I Tolok secara tekstual mengacu kepada nama I Tolok sendiri yang memiliki makna tersendiri dalam drama ini. latar/setting yang berupa penokohan terbentuk pada system budaya tertentu. Sifat penokohan diacu dalam drama I Tolok dapat dilihat pada prolog yang ditulis dengan nebeng teks,seperti pada kutipan berikut :
I TOLOK DAENG MAGASSING ADALAH SALAH SATU NAMA YG TELAH JADI LEGENDA DI KALANGAN MASYARAKAT BUGIS MAKASSAR.
(I Tolok ,163)
Dari kutipan di atas jelas dapat di lihat bagaimana I Tolok menjadi sebuah nama yang menjadi legenda, artinya dia pernah melakukan hal-hal yang berbau kepahlawanan sehingga namanya dikenang hingga menjadi legenda.
Penggunaan kode yang kedua adalah garong atau pencuri . kode ini dapat dilihat pada nebeng teks pada prolog seperti kutipan berikut :
PADA SEKITAR TAHUN-TAHUN AWAL MASUKNYA BELANDA DI SULAWESI SELATAN, IA MULAI MELAWAN BELANDA DAN KAKI TANGANNYA ,DIGARONGNYA MEREKA,DAN DIBAGIKAN HASILNYA KEPADA ORANG-ORANG MISKIN.
(I Tolok,163)
Dalam hukum kriminal, pencurian adalah pengambilan properti milik orang lain secara tidak sah tanpa seizin pemilik. Kata ini juga digunakan sebagai sebutan informal untuk sejumlah kejahatan terhadap properti orang lain, seperti perampokan rumah, penggelapan, larseni, penjarahan, perampokan, pencurian toko, penipuan dan kadang pertukaran kriminal. Unsur perbuatan mengambil (wegnemen). Dari adanya unsur perbuatan yang dilarang mengambil ini menunjukkan bahwa pencurian adalah berupa tindak pidana formil. Mengambil adalah suatu tingkah laku positif/perbuatan materiil, yang dilakukan dengan gerakan - gerakan otot yang disengaja yang pada umumnya dengan menggunakan jari - jari dan tangan yang kemudian diarahkan pada suatu benda, menyentuhnya, memegangnya, dan mengangkatnya lalu membawa dan memindahkannya ke tempat lain atau ke dalam kekuasaannya. Sebagaimana dalam banyak tulisan, aktifitas tangan dan jari - jari sebagaimana tersebut di atas bukanlah merupakan syarat dari adanya perbuatan mangambil. Unsur pokok dari perbuatan mengambil adalah harus ada perbuatan aktif, ditujukan pada benda dan berpindahnya kekuasaan benda itu ke dalam kekuasaannya. Berdasarkan hal tersebut, maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaan. Berdasarkan hal tersebut, maka mengambil dapat dirumuskan sebagai melakukan perbuatan terhadap suatu benda dengan membawa benda tersebut ke dalam kekuasaannya secara nyata dan mutlak (Kartanegara, 1:52 atau Lamintang, 1979:79-80).
Pencuri atau garong memang menpunyai makna yang sangat negative namun dalam cerita ini kita melihat justru mencuri itu bukan sesuatu yang salah dan malah dibanggakan sebab ternyata hasil garong itu dibagikan bagi masyarakat miskin yang tidak mendapatkan perhatian. Makna pencuri yang awalnya negative ternyata manpu berubah dalam drama ini justru mengacu pada sesuatu yang baik.
Penggunaan kode yang berikutnya adalah sarung Kain tradisional Bugis yang berupa sarung . sarung ini memiliki corak garis-garis yang cantik, dan terbuat dari sutra yang diproduksi oleh masyarakat bugis sendiri. Masyarakat Bugis dari desa Tajung di Sulawesi Selatan sudah menggunakan cara modern dalam pengembangbiakan ulat sutra, untuk memenuhi kebutuhan benang para penenun di desa Sempange, Sengkang yang merupakan pusat pembuatan kain tenun di Sulawesi Selatan.
Menurut legenda, masyarakat Bugis percaya bahwa keterampilan menenun nenek moyang masyarakat Bugis diilhami oleh sehelai sarung yang ditinggalkan oleh para dewa di pinggir danau Tempe. Dan di desa-desa yang terletak di pinggiran danau Tempe itulah kain tenun Bugis yang sangat bagus itu dibuat. Bahan sandang pada masa lampau, tidak pernah bisa lepas dari fungsi sebagai pelengkap kebutuhan budaya. Ini pula yang terjadi pada kain sarung Bugis. Selain menjadi pakaian sehari-hari, kain sarung Bugis, digunakan untuk kelengkapan upacara yang bersifat sakral, juga sebagai hadiah untuk mempelai perempuan dari mempelai laki-laki.
Corak kain sarung Bugis ada beberapa macam, di antaranya adalah corak kotak-kotak kecil yang disebut balo renni. Sementara itu, corak kotak-kotak besar seperti kain tartan Skotlandia, diberi nama balo lobang. Selain corak kotak-kotak, terdapat pula corak zig-zag yang diberi nama corak bombang. Corak ini menggambarkan gelombang lautan. Pola zig-zag ini dapat diterapkan di seluruh permukaan sarung atau di bagian kepala sarung saja, adapun bagian kepala sarung justru terletak di area tengah sarung, dan sering juga corak bombang ini digabungkan dengan corak kotak-kotak.
Namun disini fungsi sarung berubah menjadi arena bagi dua orang untuk melakukan duel dan menjadi tanda bahwa tak ada kelicikan dan tak ada tipu daya. Ini dapat dilihat pada kutipan percakapan dan nebeng teks pada dialog yang dilakukan Sarampa.
SARAMPA :
Tunggu !(SEMUA ORANG DIAM. SEMUA ORANG MEMANDANG SARAMPA MENCABUT SELEMBAR SARUNG SUTRA YANG DISISIPKAN DI PINGGANG NYA. SARUNG ITU DIGELARKAN DI TANAH) Lelaki tetesan leluhur. Selesaikan sengketa dalam satu sarung, tak ada kelicikan,tak ada tipu daya. Hidup mati di batas halusnya sutra.
(HENING, ORANG SEPERTI DIPUKAU OLEH UCAPAN SARAMPA. MEREKA BERGERAK OLEH PUKULAN ITU KE ARAH SARUNG. DUA LELKI YANG BERSENGKETA TERPAKU DI TEMPATNYA. ORANG-ORANG ITU MENGGELARKAN BUNDARAN SARUNG ITU DI TANAH. KEDUA ORANG ITU PELAN-PELAN MENUJU SARUNG. KEDUANYA TEGAK DI DALAM SATU SARUNG KINI….
(I Tolok,191)
BAB III
PENUTUP
1.Simpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka simpulan makalah ini adalah:
Dalam drama I Tolok ada tiga kode yang menarik untuk dianalisis, yaitu :
1. Penamaan tokoh I Tolok
I TOLOK DAENG MAGASSING ADALAH SALAH SATU NAMA YG TELAH JADI LEGENDA DI KALANGAN MASYARAKAT BUGIS MAKASSAR.
Dari kutipan di atas jelas dapat di lihat bagaimana I Tolok menjadi sebuah nama yang menjadi legenda, artinya dia pernah melakukan hal-hal yang berbau kepahlawanan sehingga namanya dikenang hingga menjadi legenda.
2. Kode Pencuri atau garong
Pencuri atau garong memang menpunyai makna yang sangat negative namun dalam cerita ini kita melihat justru mencuri itu bukan sesuatu yang salah dan malah dibanggakan sebab ternyata hasil garong itu dibagikan bagi masyarakat miskin yang tidak mendapatkan perhatian. Makna pencuri yang awalnya negative ternyata manpu berubah dalam drama ini justru mengacu pada sesuatu yang baik.
3. Kode sarung
Dalam drama ini fungsi sarung berubah menjadi arena bagi dua orang untuk melakukan duel dan menjadi tanda bahwa tak ada kelicikan dan tak ada tipu daya.
2. saran
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini,maka penulis menyarankan kepada pembaca untuk mencari referensi lain jika pembaca ingin mengetahui secara jauh lagi mengenai kode-kode dalam drama I Tolok karya Rahman Arge
DAFTAR PUSTAKA
http://www. definisi pencurian.com
http://www. Pesona sarung bugis.com
http://www. Semiotika menurut beberapa ahli.com
Forum Kebudayaan Indonesia.http://www.budaya-indonesia.org
Pesona Kain Nusantara Senandung Sarung Bugis _ Indonesian Fashion Spot!.htm
Tugas Kulya Ukiee
Kamis, 16 Juni 2011
Rabu, 15 Juni 2011
Penelitian kebudayaan Barrang Lompo
Pada tanggal 2 Juni saya melaksanakan penelitian di pulau Barrang Lompo. Di dermaga terlihat setiap individu sibuk dalam menjalankan fungsi-fungsinya ada yang mengankut barang dari dermaga ke kapal, ada yang menurunkan barang dari kapal ke dermaga , dan ada pula yang sibuk mengatur penumpang.
Kapal Rakhmat Kurnia Ilahi merupakan kapal yang mengangkut kami menyeberang ke Barrang Lompo. Di atas kapal terlihat berbagai interaksi, baik sosial maupun individu , ada yang asik bermain HP dan ada yang bercanda ria dengan teman
Waktu menunjukkan pukul 10.59 wita kapal sampai juga di dermaga kecil. Seluruh penumpang turun dengan menbawa barang bawaan masing-masing, masyarakat menyambut dengan keceriaan dan senyum ramah mereka. Sesampai di asrama semua peserta penelitian langsung merebahkan badannya di kasur. semua merasa capek setelah menghabiskan satu jam waktu nya di kapal.
Suara adzan terdengar jelas, maklum jarak asrama dengan mesjidhanya sekitar 10 meter saja. Sebagian peserta segera menuju mesjid untuk menunaikan rukun islam kedua ini. Banyaknya jamaah yang melaksanakan shalat di mesjid menunjukkan cukup tingginya religiuitas masyarakat Barang Lompo. Ada tiga objek penelitian , pertama sistem mata pencaharian ,sistem religi serta bahasa yang ada pada masyarakat Barrang Lompo, setelah memaparkan objek penelitian dibagilah kelompok menjadi tiga kelompok besar yang masing – masing meneliti satu objek dan setelah itu diberikan kesempatan untuk meneliti sampai sore hari.
Saya ditunjuk sebagai ketua kelompok tiga dan diberikan objek bahasa untuk diteiliti. ketua RW 3 menjadi narasumber pertama namun sayang ketua RW sedang tidak berada di tempat akhirnya narasumber beralih ke bu RW. Bu RW yang bernama St. Hajerah atau yang akrab disapa deng sitti oleh masyarakat sekitar ini menberikan keterangan mengenai objek penelitian saya, menurutnya bahasa yang ada di aderah ini adalah bahasa Makassar,bugis,mandar,cina,boya(bahasa yang berasala dari pedalaman pulau di Bulukumba). yang menandakan bahwa bahasa cina ada meskipun sudah jarang didengar adalah adanya nama ance dan bonda yang merupakan salah satu sapaan orang cina. untuk melastarikan bahasa daerah, mulai SD sampai SMA diajarkan pelajaran bahasa daerah atau aksara lontaraq. Jika sesama suku mereka akan menggunakan bahasa yang sama namun ketika bertemu dengan suku yang berbeda akan menggunakan bahasa Makassar atau Indonesia. seperti misalnya mandar jika bertemu mandar akan berbahasa mandar namun jika bertemu dengan suku Makassar akan berbahasa Makassar atau Indonesia.
, semua peserta keluar untuk menikmati suasana sore di pulau ini saya dan beberapa orang teman berjalan mengelilingi pulau untuk mengenal lebih jauh mengenai aktivitas yang dilakukan masyarakat Barang Lompo pada sore hari. Tingkat kesejahteraan masyarakat Barang Lompo sangat tinggi ini sangat terlihat jelas ketika saya keliling untuk melukakan penelitian , Hampir seluruh rumah di daerah ini adalah rumah permanen dengan lantai marmer. Hasil olah pikir masyarakat yang cukup menarik adalah adanya ojek namun ojek di sini agak berbeda,. ojek di sini adalah motor dengan tempat penumpang dibelakang mirip dokar dengan tempat duduk saling berhadapan dan manpu memuat 10 orang dewasa, tarifnya sangat murah hanya seribu rupiah untuk satu kali keliling pulau.
Merasa penasaran dengan dinginnya pantai semua peserta turun ke pantai, , setiap peserta coba mengabadikan kebersamaan mereka dengan foto bersama. Kapal-kapal penangkap ikan terlihat dari kejauhan menuju dermaga, sekelompok anak kecil sedang asik mencari kerang. Cara mereka mencari kerang sangat unik yakni dengan menusukkan pisau ke pasir penasaran dengan hal itu saya mencoba,namun ternyata tidak segampang yang dilihat dan ternyata sangat sulit menemukan di mana posisi kerang dalam pasir. Setelah saya amati lebih jauh akhirnya saya mengetahui bahwa intinya dalam mencari kerang dalam pasir itu adalah menggunakan perasaan untuk merasakan jika ada kerang yang tertusuk. Setelah mencoba berkali kali akhirnya saya bisa dan mendapat dua buah kerang kecil. Menurut saya mencari kerang dengan menusukkan pisau ke pasir merupakan hasil olah pikir masyarakat Barang Lompo yang sangat cerdas sekali.
Tugas Individu
METODOLOGI PENELITIAN KEBUDAYAAN
‘’ Interaksi Mahasiswa dengan Masyarakat di Pulau Barrang Lompo,Kelurahan Ujung Tanah, Kec.Barrang Lompo, Makassar’’’
MUHCLIS ABDUH
F111 09 270
SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
Kapal Rakhmat Kurnia Ilahi merupakan kapal yang mengangkut kami menyeberang ke Barrang Lompo. Di atas kapal terlihat berbagai interaksi, baik sosial maupun individu , ada yang asik bermain HP dan ada yang bercanda ria dengan teman
Waktu menunjukkan pukul 10.59 wita kapal sampai juga di dermaga kecil. Seluruh penumpang turun dengan menbawa barang bawaan masing-masing, masyarakat menyambut dengan keceriaan dan senyum ramah mereka. Sesampai di asrama semua peserta penelitian langsung merebahkan badannya di kasur. semua merasa capek setelah menghabiskan satu jam waktu nya di kapal.
Suara adzan terdengar jelas, maklum jarak asrama dengan mesjidhanya sekitar 10 meter saja. Sebagian peserta segera menuju mesjid untuk menunaikan rukun islam kedua ini. Banyaknya jamaah yang melaksanakan shalat di mesjid menunjukkan cukup tingginya religiuitas masyarakat Barang Lompo. Ada tiga objek penelitian , pertama sistem mata pencaharian ,sistem religi serta bahasa yang ada pada masyarakat Barrang Lompo, setelah memaparkan objek penelitian dibagilah kelompok menjadi tiga kelompok besar yang masing – masing meneliti satu objek dan setelah itu diberikan kesempatan untuk meneliti sampai sore hari.
Saya ditunjuk sebagai ketua kelompok tiga dan diberikan objek bahasa untuk diteiliti. ketua RW 3 menjadi narasumber pertama namun sayang ketua RW sedang tidak berada di tempat akhirnya narasumber beralih ke bu RW. Bu RW yang bernama St. Hajerah atau yang akrab disapa deng sitti oleh masyarakat sekitar ini menberikan keterangan mengenai objek penelitian saya, menurutnya bahasa yang ada di aderah ini adalah bahasa Makassar,bugis,mandar,cina,boya(bahasa yang berasala dari pedalaman pulau di Bulukumba). yang menandakan bahwa bahasa cina ada meskipun sudah jarang didengar adalah adanya nama ance dan bonda yang merupakan salah satu sapaan orang cina. untuk melastarikan bahasa daerah, mulai SD sampai SMA diajarkan pelajaran bahasa daerah atau aksara lontaraq. Jika sesama suku mereka akan menggunakan bahasa yang sama namun ketika bertemu dengan suku yang berbeda akan menggunakan bahasa Makassar atau Indonesia. seperti misalnya mandar jika bertemu mandar akan berbahasa mandar namun jika bertemu dengan suku Makassar akan berbahasa Makassar atau Indonesia.
, semua peserta keluar untuk menikmati suasana sore di pulau ini saya dan beberapa orang teman berjalan mengelilingi pulau untuk mengenal lebih jauh mengenai aktivitas yang dilakukan masyarakat Barang Lompo pada sore hari. Tingkat kesejahteraan masyarakat Barang Lompo sangat tinggi ini sangat terlihat jelas ketika saya keliling untuk melukakan penelitian , Hampir seluruh rumah di daerah ini adalah rumah permanen dengan lantai marmer. Hasil olah pikir masyarakat yang cukup menarik adalah adanya ojek namun ojek di sini agak berbeda,. ojek di sini adalah motor dengan tempat penumpang dibelakang mirip dokar dengan tempat duduk saling berhadapan dan manpu memuat 10 orang dewasa, tarifnya sangat murah hanya seribu rupiah untuk satu kali keliling pulau.
Merasa penasaran dengan dinginnya pantai semua peserta turun ke pantai, , setiap peserta coba mengabadikan kebersamaan mereka dengan foto bersama. Kapal-kapal penangkap ikan terlihat dari kejauhan menuju dermaga, sekelompok anak kecil sedang asik mencari kerang. Cara mereka mencari kerang sangat unik yakni dengan menusukkan pisau ke pasir penasaran dengan hal itu saya mencoba,namun ternyata tidak segampang yang dilihat dan ternyata sangat sulit menemukan di mana posisi kerang dalam pasir. Setelah saya amati lebih jauh akhirnya saya mengetahui bahwa intinya dalam mencari kerang dalam pasir itu adalah menggunakan perasaan untuk merasakan jika ada kerang yang tertusuk. Setelah mencoba berkali kali akhirnya saya bisa dan mendapat dua buah kerang kecil. Menurut saya mencari kerang dengan menusukkan pisau ke pasir merupakan hasil olah pikir masyarakat Barang Lompo yang sangat cerdas sekali.
Tugas Individu
METODOLOGI PENELITIAN KEBUDAYAAN
‘’ Interaksi Mahasiswa dengan Masyarakat di Pulau Barrang Lompo,Kelurahan Ujung Tanah, Kec.Barrang Lompo, Makassar’’’
MUHCLIS ABDUH
F111 09 270
SASTRA INDONESIA
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011
Selasa, 07 Juni 2011
(8) PERBEDAAN ANTARA CINTA & SUKA
Di depan orang yang kamu "CINTA", jantungmu akan berdebar-debar dengan cepat. Di depan orang yang kamu "SUKA", kamu akan selalu bahagia. Di depan orang yang kamu "CINTA", musim dingin serasa musim semi. Tetapi di depan orang yang kamu "SUKA" musim dingin sama saja dengan musim dingin yang indah. Jika kamu melihat ke dalam mata orang yang kamu "CINTA", maka kamu akan bersemu. Tetapi jika kamu melihat ke dalam mata orang yang kamu "SUKA", maka kamu akan tersenyum. Di depan orang yang kamu "CINTA", kamu tidak akan dapat mengungkapkan apa yang ada di benakmu. Tetapi di depan orang yang kamu "SUKA", kamu dapat mengungkapkannya. Di depan orang yang kamu "CINTA", kamu cenderung malu. Tetapi di depan orang yang kamu "SUKA", kamu bisa menunjukkan diri kamu yang sebenarnya.
Orang yang kamu "CINTA", biasanya akan muncul di benakmu setiap 2 menit. Kamu tidak akan dapat menatap langsung ke mata orang yang kamu CINTA-i. Tetapi kamu akan selalu tersenyum jika menatap mata orang yang kamu " SUKA-i". Ketika orang yang kamu CINTA-i sedang menangis, kamu akan ikut menangis bersamanya. Tetapi jika orang yang kamu SUKA-i menangis, kamu akan mengakhirinya dengan kelegaan. Perasaan dari "CINTA" dimulai dari tatapan mata. Dan perasaan "SUKA" dimulai dari pendengaran telinga. Jadi, jika kamu berhenti menyukai seseorang, yang harus kamu lakukan adalah menutup telingamu. Tetapi jika kamu mencoba untuk menutup matamu.....,
CINTA akan berbalik menjadi tetesan air mata dan akan selalu berbekas di hatimu selamanya....
Tentang Cinta
Dengan Cinta hati bisa Luka, dengan Cinta hati bisa bahagia, dengan Cinta semua bisa terjadi....tetapi dengan Cinta tak harus memiliki...tetapi dengan Cinta harus berkorban demi Cinta
Rakit Asmara
Mungkin ..arti semua arti dari semua makna akan cinta itu hanyalah khayalan kita. Namun terasa nikmat kadang , dan juga tak sedikit pula yag sengsara terasa dalam kalbu. Namun harus terlaksana bagaikan selaksa panah-panah yang tak pernah berhenti mencapai sasarannya. bak roda yang berputar dalam lingkarannya, yang tidak bisa lepas dari garis lingkarnya. Haruskah kita berteriak..... ataukah kita merintih ???
Mungkin sang bayu akan terus mengajak kita untuk berkelana. Namun rajutan bambu kita tetap kita yang menakhodai dengan segala kegamangan-kegamangan kalbu yang kita miliki. Perseteruan apalagi kini ...?! hanya mungkin... Dia Yang di atas sana mungkin menonton bak film yang terputar dalam slide monitor. yah....kita...aku...atau diri ini....atau siapakah kita, yang jelas harus kita hadapi dan jalani.......
Di depan orang yang kamu "CINTA", jantungmu akan berdebar-debar dengan cepat. Di depan orang yang kamu "SUKA", kamu akan selalu bahagia. Di depan orang yang kamu "CINTA", musim dingin serasa musim semi. Tetapi di depan orang yang kamu "SUKA" musim dingin sama saja dengan musim dingin yang indah. Jika kamu melihat ke dalam mata orang yang kamu "CINTA", maka kamu akan bersemu. Tetapi jika kamu melihat ke dalam mata orang yang kamu "SUKA", maka kamu akan tersenyum. Di depan orang yang kamu "CINTA", kamu tidak akan dapat mengungkapkan apa yang ada di benakmu. Tetapi di depan orang yang kamu "SUKA", kamu dapat mengungkapkannya. Di depan orang yang kamu "CINTA", kamu cenderung malu. Tetapi di depan orang yang kamu "SUKA", kamu bisa menunjukkan diri kamu yang sebenarnya.
Orang yang kamu "CINTA", biasanya akan muncul di benakmu setiap 2 menit. Kamu tidak akan dapat menatap langsung ke mata orang yang kamu CINTA-i. Tetapi kamu akan selalu tersenyum jika menatap mata orang yang kamu " SUKA-i". Ketika orang yang kamu CINTA-i sedang menangis, kamu akan ikut menangis bersamanya. Tetapi jika orang yang kamu SUKA-i menangis, kamu akan mengakhirinya dengan kelegaan. Perasaan dari "CINTA" dimulai dari tatapan mata. Dan perasaan "SUKA" dimulai dari pendengaran telinga. Jadi, jika kamu berhenti menyukai seseorang, yang harus kamu lakukan adalah menutup telingamu. Tetapi jika kamu mencoba untuk menutup matamu.....,
CINTA akan berbalik menjadi tetesan air mata dan akan selalu berbekas di hatimu selamanya....
Tentang Cinta
Dengan Cinta hati bisa Luka, dengan Cinta hati bisa bahagia, dengan Cinta semua bisa terjadi....tetapi dengan Cinta tak harus memiliki...tetapi dengan Cinta harus berkorban demi Cinta
Rakit Asmara
Mungkin ..arti semua arti dari semua makna akan cinta itu hanyalah khayalan kita. Namun terasa nikmat kadang , dan juga tak sedikit pula yag sengsara terasa dalam kalbu. Namun harus terlaksana bagaikan selaksa panah-panah yang tak pernah berhenti mencapai sasarannya. bak roda yang berputar dalam lingkarannya, yang tidak bisa lepas dari garis lingkarnya. Haruskah kita berteriak..... ataukah kita merintih ???
Mungkin sang bayu akan terus mengajak kita untuk berkelana. Namun rajutan bambu kita tetap kita yang menakhodai dengan segala kegamangan-kegamangan kalbu yang kita miliki. Perseteruan apalagi kini ...?! hanya mungkin... Dia Yang di atas sana mungkin menonton bak film yang terputar dalam slide monitor. yah....kita...aku...atau diri ini....atau siapakah kita, yang jelas harus kita hadapi dan jalani.......
Senin, 11 April 2011
SEJARAH PENGKAJIAN BAHASA INDONESIA
Sejarah pengkajian bahasa Indonesia bertujuan menyelusuri bagaimana bahasa diungkapkan Melalui buku-buku ,istilah-istilahdan karya –karya yang menyangkut bahasa.sistem historiografi menurut Harimurti belum banyak dikenal oleh masyarakat ,metode sejara studi yang di pakai ;
Menelusuri buku atau karya-karya itu sendiri
Filologi atau menggunakan alat bantu
Tradisi yunani-romawi yang menjadi sumber tradisi arab tersebut berkembang di eropa lepas dari tradisi arab dan melalui ahli-ahli bahasa Belanda masuk ke Indonesia.yang cukup mengherankan kenyataan bahwa tradisi sansekerta tidak ada bekasnya sama sekali di Indonesia walaupun kita ketahui pengaruh kebudayaan hindu dan Buddha.
Perhatian kepada perkembangan studi tata bahasa sudah ada sejak kedatangan belanda minat kepada studi tata bahasa sudah saatnya dibangun kembali,sebab menurunnya minat baca dan perhatia para sarjana eropa hanya terbatas pada penyelidikan yang dilakukan oleh bangsa mereka saja,dan mereka juga tidak menghargai karya ahli bahasa pribumi.dan yang paling penting penyelidikan historiografi linguistic Indonesia merupakan sarana untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan selama ini ,sehingga dengan demikian dapat dicapai kemajuan yg cepat.
Dengan historiografi linguistic kta berusaha kita berusaha memahami perkembangan konsep-konsep ,teori,metode,peristilahan,dan gaya penyajian dalam bidang bahasa dari dulu hingga sekarang atau secara retrospektif,menelusuri konsep-konsep,teori,metode,peristilahan,dan gaya penyajian yang lazim pada satu masa ke tradisi yang mungkin menurunkannyasegala sesuatu yang menbicarakan bahasa jadilah materi bidang penelitian ini,oleh sebab itu kita tidak hanya akan menggunakan karya-karya teoritis .
Dua penelitian bahasa dan dipakai dalam historiografi linguistik yaitu metode filologis dan metode penelitian social yang konvensional.metode filologis yaitu mencari naskah dan metode penelitian social yang menggunakan metode wawancara.
Dalam historiografi linguistic kita tidak hanya menperhatikan pewarisan konsepsi-konsepsi ,melainkan juga reaksi atau’’ pembrontakan ‘’terhadap paradigma yang berlaku . Gramatika atau tata bahasa selalu berkerangkakan kelas kata. Oleh sebab itu penelusuran konsep-konsep tata bahasa pada hakekatnya merupakan penelusuran teori kelas kata.
Seperti diutarakan pada awal teori plato- aristoteles mengenai kelas kata melalui pelbagai perantara diambil alih para ahli tata bahasa arab ,salah satu yg paling berpengaruh ialah orang parsi bernama sibawaihi yg karyanya masih merupakan kerangka tata bahasa arab sampai hari ini..kerangka teori sibawaihi inilah yang diterapakan oleh Raja Ali Haji dalam bukunya bustanul katibina(penyengat 1857).karayanya yang lain kitab pengetahuan bahasa .juga memuat tata bahasa melayu;di bagian lain termuat kamus bahasa melayu monolingual.jadi kalu dalam bahasa arab ada ism,fi’il, dan harf, maka dalam bahasa melayupun ada ketiga kelas kata itu ,yang mengigatkan kita pada pembagian Aristoteles atas onomo,rhema,syndemos.
Di tanah semenanjung dikalangan guru pada awal abad 20 karya K.Sasrasoeganda kitab jang menjatakan djalan bahasa melajoe (semarang,1910)penulis dalam pengantarnya menyatakan bahwa buku itu disusun berdasarkan buku G.Van Wijk,tetapi terdapat perbedaan diantara keduanya:van wijk menbuat bukunya dengan urutan ;pengantar,lafal dan ejaan,pembagian kelas kata,kata kerja,kata benda,kata sifat,kata bilangan kata ganti,kata tambahan,kata depan,kata sambung,kata seru.sedangkan sasrasoeganda ;kalimat pokok,sebutan keterangan,tujuan,penderita dsb,jenis perkataan dalam kalimat,perkataan pekerjaan ,perkataan nama benda ,perkataan nama sifat,perkataan pengganti nama,perkataan bilangan,perkataan tambahan,perkataan pengantar ,perkataan penghubung,perkataan penyeru.
Buku sasrasoeganda memuat kata pengantar dari C.c. Coes yg menyatakan bahwa sasrasoeganda juga menggunakan buku lain,bukuyg dimaksud ialah Rempah-Rempah,spteek taal,Batavia ,(1905).di tanah semenanjung seperti dinyatakan di atas buku tata bahasa Melayu yg sangat berpengaruh pada awal abad ini ialah R.O. Winsedt malay grammar(1910),sesudah itu karya zainal abidin bin Ahmad (pelita bahasa melayu)(singapura 1940).
Masa –masa setelah tahun 1960 ditandai perbaruan wawasan tentang bahasa Indonesia salah satu usaha ke arah itu ialah karya A.M moeliono yg mengadakan klasifikasi kata yang baru .ia menbagi kelas kata dalam bahasa Indonesia atas nomina,verba dan partikel
Asal muasal konsep kelas kata sebagai titik pandang sejarah studi bahasa Indonesia .dengan dasar itu pula mudah bagi kita menandai perkembangan dan pewarisan konsepsi-konsepsi
Adapun contoh yang mendapat pengaruh dari Sibawahai yaitu Muh Zain dalam bukunya yg berjudul Djalan Bahasa Indonesia menyinggung mengenai kalimat isim dan kalimat fi’il.contoh yang kedua yan bersangkutan dengan bentuk verba pasif yang tidak mengandung prefis meN yang sudah dijelaskan oleh Verhaar .tidak usah diragukan lagi.bahwa masalah ini ada dalam jalur Hollander-wijk-sasrasoeganda-alijahbana..
Dengan meliha jalur pewarisan di atas kita dapat mengikuti perkembangan yg normal dalam sejarah pengkajian bahasa indonesia . tetapi karya Armija pane, dan Fokker yg menyusun tata bahasa tidak berdasarkan kelas kata ,melainkan dengan kerangka sintaksis yang penyelidikannya diintensifkan kembali oleh aliran transformasi 10 tahun kemudian .
Menelusuri buku atau karya-karya itu sendiri
Filologi atau menggunakan alat bantu
Tradisi yunani-romawi yang menjadi sumber tradisi arab tersebut berkembang di eropa lepas dari tradisi arab dan melalui ahli-ahli bahasa Belanda masuk ke Indonesia.yang cukup mengherankan kenyataan bahwa tradisi sansekerta tidak ada bekasnya sama sekali di Indonesia walaupun kita ketahui pengaruh kebudayaan hindu dan Buddha.
Perhatian kepada perkembangan studi tata bahasa sudah ada sejak kedatangan belanda minat kepada studi tata bahasa sudah saatnya dibangun kembali,sebab menurunnya minat baca dan perhatia para sarjana eropa hanya terbatas pada penyelidikan yang dilakukan oleh bangsa mereka saja,dan mereka juga tidak menghargai karya ahli bahasa pribumi.dan yang paling penting penyelidikan historiografi linguistic Indonesia merupakan sarana untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan selama ini ,sehingga dengan demikian dapat dicapai kemajuan yg cepat.
Dengan historiografi linguistic kta berusaha kita berusaha memahami perkembangan konsep-konsep ,teori,metode,peristilahan,dan gaya penyajian dalam bidang bahasa dari dulu hingga sekarang atau secara retrospektif,menelusuri konsep-konsep,teori,metode,peristilahan,dan gaya penyajian yang lazim pada satu masa ke tradisi yang mungkin menurunkannyasegala sesuatu yang menbicarakan bahasa jadilah materi bidang penelitian ini,oleh sebab itu kita tidak hanya akan menggunakan karya-karya teoritis .
Dua penelitian bahasa dan dipakai dalam historiografi linguistik yaitu metode filologis dan metode penelitian social yang konvensional.metode filologis yaitu mencari naskah dan metode penelitian social yang menggunakan metode wawancara.
Dalam historiografi linguistic kita tidak hanya menperhatikan pewarisan konsepsi-konsepsi ,melainkan juga reaksi atau’’ pembrontakan ‘’terhadap paradigma yang berlaku . Gramatika atau tata bahasa selalu berkerangkakan kelas kata. Oleh sebab itu penelusuran konsep-konsep tata bahasa pada hakekatnya merupakan penelusuran teori kelas kata.
Seperti diutarakan pada awal teori plato- aristoteles mengenai kelas kata melalui pelbagai perantara diambil alih para ahli tata bahasa arab ,salah satu yg paling berpengaruh ialah orang parsi bernama sibawaihi yg karyanya masih merupakan kerangka tata bahasa arab sampai hari ini..kerangka teori sibawaihi inilah yang diterapakan oleh Raja Ali Haji dalam bukunya bustanul katibina(penyengat 1857).karayanya yang lain kitab pengetahuan bahasa .juga memuat tata bahasa melayu;di bagian lain termuat kamus bahasa melayu monolingual.jadi kalu dalam bahasa arab ada ism,fi’il, dan harf, maka dalam bahasa melayupun ada ketiga kelas kata itu ,yang mengigatkan kita pada pembagian Aristoteles atas onomo,rhema,syndemos.
Di tanah semenanjung dikalangan guru pada awal abad 20 karya K.Sasrasoeganda kitab jang menjatakan djalan bahasa melajoe (semarang,1910)penulis dalam pengantarnya menyatakan bahwa buku itu disusun berdasarkan buku G.Van Wijk,tetapi terdapat perbedaan diantara keduanya:van wijk menbuat bukunya dengan urutan ;pengantar,lafal dan ejaan,pembagian kelas kata,kata kerja,kata benda,kata sifat,kata bilangan kata ganti,kata tambahan,kata depan,kata sambung,kata seru.sedangkan sasrasoeganda ;kalimat pokok,sebutan keterangan,tujuan,penderita dsb,jenis perkataan dalam kalimat,perkataan pekerjaan ,perkataan nama benda ,perkataan nama sifat,perkataan pengganti nama,perkataan bilangan,perkataan tambahan,perkataan pengantar ,perkataan penghubung,perkataan penyeru.
Buku sasrasoeganda memuat kata pengantar dari C.c. Coes yg menyatakan bahwa sasrasoeganda juga menggunakan buku lain,bukuyg dimaksud ialah Rempah-Rempah,spteek taal,Batavia ,(1905).di tanah semenanjung seperti dinyatakan di atas buku tata bahasa Melayu yg sangat berpengaruh pada awal abad ini ialah R.O. Winsedt malay grammar(1910),sesudah itu karya zainal abidin bin Ahmad (pelita bahasa melayu)(singapura 1940).
Masa –masa setelah tahun 1960 ditandai perbaruan wawasan tentang bahasa Indonesia salah satu usaha ke arah itu ialah karya A.M moeliono yg mengadakan klasifikasi kata yang baru .ia menbagi kelas kata dalam bahasa Indonesia atas nomina,verba dan partikel
Asal muasal konsep kelas kata sebagai titik pandang sejarah studi bahasa Indonesia .dengan dasar itu pula mudah bagi kita menandai perkembangan dan pewarisan konsepsi-konsepsi
Adapun contoh yang mendapat pengaruh dari Sibawahai yaitu Muh Zain dalam bukunya yg berjudul Djalan Bahasa Indonesia menyinggung mengenai kalimat isim dan kalimat fi’il.contoh yang kedua yan bersangkutan dengan bentuk verba pasif yang tidak mengandung prefis meN yang sudah dijelaskan oleh Verhaar .tidak usah diragukan lagi.bahwa masalah ini ada dalam jalur Hollander-wijk-sasrasoeganda-alijahbana..
Dengan meliha jalur pewarisan di atas kita dapat mengikuti perkembangan yg normal dalam sejarah pengkajian bahasa indonesia . tetapi karya Armija pane, dan Fokker yg menyusun tata bahasa tidak berdasarkan kelas kata ,melainkan dengan kerangka sintaksis yang penyelidikannya diintensifkan kembali oleh aliran transformasi 10 tahun kemudian .
MAHASISWA SASTRA BELAJAR SEJARAH
Siapa yang bilang sastra tidak belajar sejarah,melalui mata kuliah junalistik sastra kami belajar sejarah ke taman prasejarah leang-leang. Tugas kami untuk mendapat informasi mengenai taman prasejarah ini kemudian membuat laporan perjalanan (Reportase). Hari itu cuaca panas waktu menunjukkan pukul 12.20 wita mobil yang ditunggu tak kunjung datang padahal waktu yang disepakati adalah 12.00 wita. Berhubung saya yang diberi tugas oleh dosen jurnalistik untuk mengurus mobil saya merasa telah mengecewakan teman-teman yang sudah menunggu dari jam 11.00 wita. Saya menghubungi supir yang memang sudah saya minta nomor hp-nya sebelumnya.
’’tunggu setengah jam lagi dek’ saya masih di kota’’!
begitu kata-kata yang terucap dari mulut supir yang saya hubungi.
Setelah setengah jam berlalu mobil yang kami tunggu-tunggu telah berada di hadapan kami.saya pun sibuk menelepon teman-teman yang belum datang atau yang sedang menunaikan shalat Dhuhur.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.00 wita namun bus masih belum berangkat karena masih ada teman yang belum datang.Pak supir yang tadi nampak santai mulai menegur saya.dek’ masih ada yang ditunggu? ‘’Masih ada satu orang pak’ ’jawabku.Di saat semua orang tengah pusing .teman-teman yang lain malah sedang asik berfose di samping jalan dekat parkiran rektorat inilah ciri khas dari sastra indonesia angkatan 2009 atau Narasi 09 yang tidak pernah mau melewatkan sedikit pun momen-momen nya tanpa mengabadikannya. Tidak lama kemudian teman yang ditunggu-tunggu tadi telah berada di atas mobil,selanjutnya saya menghubungi dosen yang masih berada di gedung rektorat untuk segera turun sebab mobil sudah lama menunggu.
Perjalanan pun dimulai, perlahan-lahan mobil mulai menjauh dari kampus unhas , Inha mahasiswi angkatan 2009 yang tadi kelihatan diam tidak mampu lagi menbendung hastratnya untuk mengoceh. Bersama teman disampingnya yaitu Budi santoso, mahasiswa angkatan 2008 yang ikut juga dalam rombongan. Dia terus mengomentari semua yang ada disekitarnya mahasiswi ini memang dikenal oleh teman-temannya cerewet mulutnya tidak pernah berhenti berbicara namun hal ini tidak pernah dianggap menggangu oleh teman disekitarnya malah rasanya ada yang kurang bagai sayur tanpa garam, kalau tidak ada dia.
Dia mengomentari setiap yang dilihatnya , katanya biar dia tidak mabuk kendaraan. Yang lain pun dapat mengerti hal ini. Coto perintis jadi sasarannya katanya polisi perintis yang dibuat menjadi soto makanya namanya coto perintis. Itulah kata-kata yang terdengar jelas di telinga saya. Budi yang berada di sampingnya menjadi tertawa mendengar hal ini. Tiba-tiba dosen kami yang tadi sedang asik berbincang dengan mahasiswi yang ada disampingnya yaitu bisma dan ipha mahasiswi asal kota kelahiran mantan presiden ke-3 indonesia BJ.Habibi pare-pare . angkat bicara pula ‘’daripada orang pangkep yang terkenal dengan sop saudara tega menjadikan saudaranya sendiri sop kan namanya sop saudara’’ begitu kata dosen ini. Teman saya yang berbadan besar yang bernama Ashar yang yang berdiri di samping pintu bersama saya yang dari tadi diam tertawa terbahak-bahak. Mahasiswa yang lain pun ikut tertawa tetapi tertawanya bukan karena mendengar lelucon dosen kami tadi tetapi malah karna mendengar si ashar tadi ketawa maklum teman saya yang satu ini memang dikenal dengan tawanya yang khas. Waktu terus berlalu tidak terasa kami telah berada di wilayah gowa. Inha pun kembali berkomentar ‘’semuanya diam kita memasuki wilayah maros ‘’
yang lain Nampak serius menanggapi peryataan Inha ini setelah itu dia kenbali berkata ‘’alhamdulillah kita selamat’’ dengan tingkah seperti sule yang sering dilihat di opera van java yang tayang jam 9 malam di trans 7. Hal ini pun tidak pelak menbuat yang lain agak jengkel tetapi terhibur. Jengkel karena merasa dipermainkan sebab menganggap kata-kata inha tadi adalah famali atau semacam larangan adat yang berlaku di maros tetapi tak lama kemudian akhirnya tertawa kembali.
Ada-ada saja tingkah laku mahasiswa sastra Indonesia angkatan 2009, ketika memasuki kawasan maros lampu jalan lalu-lintas merah dan bus harus berhenti. Di samping bus kami berhenti di sebelah kanan bus ada kantor polisi maros. Tetapi tentu bukan ini yang menbuat mata terbelalak tetapi hal yang lain berbeda di samping kiri dua orang wanita yang berada di samping kami menjadi pusat perhatian. maklum cowok pasti matanya terbelalak kalau melihat hal seperti ini dan termasuk saya sendiri. Tiba-tiba semua kompak mengucapkan Prikitiu kata yang biasa diucapkan oleh sule ini untuk menggoda para wanita seperti di opera van java untuk menggoda dua orang wanita yang berboncengan tadi.
‘’Selamat datang di taman prasejarah leang-leang maros’’tulisan ini menyambut kami, kata sambutan ini terpajang tepat di pintu gerbang masuk ke leang-leang tempat yang kami akan kunjungi hari ini. Selanjutnya kami harus menempuh beberapa km lagi untuk dapat melihat objek yang akan kami kunjungi. Namun keramahan dalam sambutan di pintu gerbang masuk tadi tidak seramah dengan jalanan masuk yang kami tempuh. Kurang lebih sekitar 5 kilometer kami lalui laksana sedang mendengar lagu dangdut yang membuat tubuh ini bergoyang tanpa kendali bahkan sesekali terdengar kata aow.. dari seorang teman karna terbentur kepalanya di kaca jendela mobil. Harusnya hal ini menjadi perhatian serius bagi pihak pemerintah sebab jalanan masuk ke leang-leang ini sudah rusak parah dan ini akan banyak sedikit menpengaruhi minat para pengunjung untuk berkunjung ke tempat ini melihat kondisi jalanan yang rusak parah.
Senyum para pegawai menyambut kami ketika memasuki kawasan leang-leang tidak tahu apa memang selalu seperti ini tetapi yang jelas yang datang kali ini pasti spesial karna mahasiswa dari unhas. Satu-persatu mahasiswa keluar dari mobil. Dosen pembimbing mata kuliah jurnalistik kami yang biasa disapa pak Dahlan langsung menuju ke tempat pembelian karcis dan memanggil saya dan seorang teman mahasiswa perempuan, Bisma untuk menemaninyanya. Dosen yang juga sebagai kepala bagian humas di unhas ini mengisi buku tamu jumlah mahasiswa yang ikut adalah 29 orang pegawai harga untuk satu karcis adalah Rp.5000,00 jadi jumlah yang harus kami bayar sebenarnya adalahRp 145.000,00 namun karna kami menbeli karcis secara borongan maka kami di beri diskon jadi yang di hitung itu hanya 25 maka yang harus kami bayar Rp 125.000,00.
Dua orang pegawai mememani kami sebagai pemandu yang akan menjelaskan seluk-beluk mengenai goa leang-leang ini. Taman Prasejarah Leang-Leang terletak di Kecamatan Batimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Di taman ini ada ratusan goa prasejarah yang tersebar di perbukitan cadas (karst) Maros-Pangkep. Dalam bahasa Makassar, leang artinya goa. Serupa dengan kata liang yang artinya lubang.
Hal yang menarik dari tempat ini adalah adanya lukisan-lukisan dinding pada goa-goa di Leang-Leang. Dari gambar-gambar pada dinding goa dan alat-alat yang ditemukan, kita bisa tahu seperti apa kehidupan manusia prasejarah. Salah satu gambar telapak tangan diperkirakan sebagai cap telapak tangan milik salah satu anggota suku yang telah mengikuti ritual potong jari. Ritual itu dilakukan sebagai tanda berduka atas kematian orang terdekatnya. Dan menurut pemandu kami . hal ini dapat dibuktikan di papua ritual potong jari ini masih berlaku sampai saat ini.
Goa Petta Kere
Gambar-gambar di kedua goa banyak yang berwarna merah. Warna tersebut terbuat dari bahan pewarna alami yang dapat meresap kuat ke dalam pori-pori batu sehingga tidak bisa terhapus dan bertahan ribuan tahun. Coba kalau manusia prasejarah itu menggambar dengan grafit (pinsil),
Gambar tangan di goa petta kere.
mudah sekali dihapusnya.Biasanya yang paling pertama menemukan goa adalah para kelelawar. Tapi goa di Leang-Leang ditemukan oleh Mister Van Heekeren dan Miss Heeren Palm. Dua arkeolog Belanda ini menemukan gambar-gambar pada dinding goa (rock painting) di Goa Pettae dan Petta Kere, dua goa di Leang-leang, pada tahun 1950.
Usia lukisan-lukisan purba di Leang-Leang diperkirakan 5.000 tahun. Beberapa arkeolog bahkan berpendapat bahwa beberapa di antara goa tersebut telah didiami sejak 8.000 - 3.000 SM (Sebelum Masehi). Mungkin gambarnya tidak seperti komik-komik yang biasa kita baca, tapi gambar-gambarnya bagus dan menarik Untuk mencapai goa ini wisatawan harus menaiki 26 anak tangga.
Goa Petta Kere berada 300 meter di sebelah Gua Pettae. Untuk mencapai goa ini wisatawan harus mendaki 64 anak tangga. anak tangganya. ya kalau mau ke Goa Petta Kere. Pemandangan yang mengelilingi kawasan Leang-leang sangat indah. Jadi tempat ini cocok untuk wisata budaya juga wisata alam. Di lokasi ini terdapat empat gazebo yang bisa digunakan wisatawan untuk beristirahat. Tempat yang tepat setelah mendaki lebih dari 50 anak tangga.
Leang pettae
Leang Pettae menghadap ke barat. Gambar yang ditemukan pada goa ini adalah lima gambar telapak tangan dan satu gambar babi rusa meloncat dengan anak panah di dadanya. Selain gambar, ditemukan pula artefak serpih, bilah, serta kulit kerang yang terdeposit pada mulut goa.. Peninggalan yang ditemukan pada goa ini adalah dua gambar babi rusa, 27 gambar telapak tangan, alat serpih bilah, dan mata panah.
Sampah dapur yang berupa kulit kerang
salah satu bukti bahwa tempat ini ada kehidupan dengan adanya limbah dapur yang berupa kulit kerang ini juga menbuktikan bahwa di tempat ini juga dahulunya merupakan lautan.
Setelah puas melihat-lihat dan mendapat informasi yang cukup mengenai leang pettae dan leang petta kere kami pun bergegas meninggalkan ke dua goa itu tetapi baru beberapa langkah meninggalkan goa itu tetes-tetes air hujan turun deras kami kemudian berlindung di bawah balai-balai. lagi-lagi ciri khas dari angkatan 2009 terlihat jelas saat hujan pun mereka tetap ngotot untuk di foto, bahkan salah satu dari teman kami yaitu A. Adzan Ashari atau yang biasa kami panggil benjo terjatuh karena berlari untuk di foto setelah dalam perjalanan tadi dia berada di belakang rombongan. Perut semakin tidak bisa komproni, setelah hujan reda saatnya makan siang berhubung dari tadi perut sudah keroncongan. Dengan lahapnya setiap peserta kegiatan ini menghabiskan makanan yang sudah kami pesan dari kampus ini . Hari hampir sore sopir sudah menberi tanda ,para peserta kegiatan ini langsung menuju ke mobil dan mengambil posisinya masing-masing .
Dalam perjalanan pulang para peserta lebih banyak diam karena sudah kelelahan ,setengah jam meninggalkan taman prasejarah leang-leang anak narasi kembali beraksi tetapi kali ini para ceweknya. Mereka berdiri di samping pintu sambil foto-foto awalnya saya melarang takut akan terjadi apa-apa nantinya tetapi mereka terus memaksa jadi saya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka menggodai setiap orang yang di jumpai dalam perjalanan pulang baik itu anak-anak maupun dewasa. Mobil terus melaju dan tidak terasa kami sudah berada di depan kantor rektorat unhas kami turun satu-persatu dari mobil dan langsung mengambil posisi di samping rektorat di bawah papan rektorat kami berfoto bersama dan ini sekaligus akhir dari perjalanan kami.
’’tunggu setengah jam lagi dek’ saya masih di kota’’!
begitu kata-kata yang terucap dari mulut supir yang saya hubungi.
Setelah setengah jam berlalu mobil yang kami tunggu-tunggu telah berada di hadapan kami.saya pun sibuk menelepon teman-teman yang belum datang atau yang sedang menunaikan shalat Dhuhur.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.00 wita namun bus masih belum berangkat karena masih ada teman yang belum datang.Pak supir yang tadi nampak santai mulai menegur saya.dek’ masih ada yang ditunggu? ‘’Masih ada satu orang pak’ ’jawabku.Di saat semua orang tengah pusing .teman-teman yang lain malah sedang asik berfose di samping jalan dekat parkiran rektorat inilah ciri khas dari sastra indonesia angkatan 2009 atau Narasi 09 yang tidak pernah mau melewatkan sedikit pun momen-momen nya tanpa mengabadikannya. Tidak lama kemudian teman yang ditunggu-tunggu tadi telah berada di atas mobil,selanjutnya saya menghubungi dosen yang masih berada di gedung rektorat untuk segera turun sebab mobil sudah lama menunggu.
Perjalanan pun dimulai, perlahan-lahan mobil mulai menjauh dari kampus unhas , Inha mahasiswi angkatan 2009 yang tadi kelihatan diam tidak mampu lagi menbendung hastratnya untuk mengoceh. Bersama teman disampingnya yaitu Budi santoso, mahasiswa angkatan 2008 yang ikut juga dalam rombongan. Dia terus mengomentari semua yang ada disekitarnya mahasiswi ini memang dikenal oleh teman-temannya cerewet mulutnya tidak pernah berhenti berbicara namun hal ini tidak pernah dianggap menggangu oleh teman disekitarnya malah rasanya ada yang kurang bagai sayur tanpa garam, kalau tidak ada dia.
Dia mengomentari setiap yang dilihatnya , katanya biar dia tidak mabuk kendaraan. Yang lain pun dapat mengerti hal ini. Coto perintis jadi sasarannya katanya polisi perintis yang dibuat menjadi soto makanya namanya coto perintis. Itulah kata-kata yang terdengar jelas di telinga saya. Budi yang berada di sampingnya menjadi tertawa mendengar hal ini. Tiba-tiba dosen kami yang tadi sedang asik berbincang dengan mahasiswi yang ada disampingnya yaitu bisma dan ipha mahasiswi asal kota kelahiran mantan presiden ke-3 indonesia BJ.Habibi pare-pare . angkat bicara pula ‘’daripada orang pangkep yang terkenal dengan sop saudara tega menjadikan saudaranya sendiri sop kan namanya sop saudara’’ begitu kata dosen ini. Teman saya yang berbadan besar yang bernama Ashar yang yang berdiri di samping pintu bersama saya yang dari tadi diam tertawa terbahak-bahak. Mahasiswa yang lain pun ikut tertawa tetapi tertawanya bukan karena mendengar lelucon dosen kami tadi tetapi malah karna mendengar si ashar tadi ketawa maklum teman saya yang satu ini memang dikenal dengan tawanya yang khas. Waktu terus berlalu tidak terasa kami telah berada di wilayah gowa. Inha pun kembali berkomentar ‘’semuanya diam kita memasuki wilayah maros ‘’
yang lain Nampak serius menanggapi peryataan Inha ini setelah itu dia kenbali berkata ‘’alhamdulillah kita selamat’’ dengan tingkah seperti sule yang sering dilihat di opera van java yang tayang jam 9 malam di trans 7. Hal ini pun tidak pelak menbuat yang lain agak jengkel tetapi terhibur. Jengkel karena merasa dipermainkan sebab menganggap kata-kata inha tadi adalah famali atau semacam larangan adat yang berlaku di maros tetapi tak lama kemudian akhirnya tertawa kembali.
Ada-ada saja tingkah laku mahasiswa sastra Indonesia angkatan 2009, ketika memasuki kawasan maros lampu jalan lalu-lintas merah dan bus harus berhenti. Di samping bus kami berhenti di sebelah kanan bus ada kantor polisi maros. Tetapi tentu bukan ini yang menbuat mata terbelalak tetapi hal yang lain berbeda di samping kiri dua orang wanita yang berada di samping kami menjadi pusat perhatian. maklum cowok pasti matanya terbelalak kalau melihat hal seperti ini dan termasuk saya sendiri. Tiba-tiba semua kompak mengucapkan Prikitiu kata yang biasa diucapkan oleh sule ini untuk menggoda para wanita seperti di opera van java untuk menggoda dua orang wanita yang berboncengan tadi.
‘’Selamat datang di taman prasejarah leang-leang maros’’tulisan ini menyambut kami, kata sambutan ini terpajang tepat di pintu gerbang masuk ke leang-leang tempat yang kami akan kunjungi hari ini. Selanjutnya kami harus menempuh beberapa km lagi untuk dapat melihat objek yang akan kami kunjungi. Namun keramahan dalam sambutan di pintu gerbang masuk tadi tidak seramah dengan jalanan masuk yang kami tempuh. Kurang lebih sekitar 5 kilometer kami lalui laksana sedang mendengar lagu dangdut yang membuat tubuh ini bergoyang tanpa kendali bahkan sesekali terdengar kata aow.. dari seorang teman karna terbentur kepalanya di kaca jendela mobil. Harusnya hal ini menjadi perhatian serius bagi pihak pemerintah sebab jalanan masuk ke leang-leang ini sudah rusak parah dan ini akan banyak sedikit menpengaruhi minat para pengunjung untuk berkunjung ke tempat ini melihat kondisi jalanan yang rusak parah.
Senyum para pegawai menyambut kami ketika memasuki kawasan leang-leang tidak tahu apa memang selalu seperti ini tetapi yang jelas yang datang kali ini pasti spesial karna mahasiswa dari unhas. Satu-persatu mahasiswa keluar dari mobil. Dosen pembimbing mata kuliah jurnalistik kami yang biasa disapa pak Dahlan langsung menuju ke tempat pembelian karcis dan memanggil saya dan seorang teman mahasiswa perempuan, Bisma untuk menemaninyanya. Dosen yang juga sebagai kepala bagian humas di unhas ini mengisi buku tamu jumlah mahasiswa yang ikut adalah 29 orang pegawai harga untuk satu karcis adalah Rp.5000,00 jadi jumlah yang harus kami bayar sebenarnya adalahRp 145.000,00 namun karna kami menbeli karcis secara borongan maka kami di beri diskon jadi yang di hitung itu hanya 25 maka yang harus kami bayar Rp 125.000,00.
Dua orang pegawai mememani kami sebagai pemandu yang akan menjelaskan seluk-beluk mengenai goa leang-leang ini. Taman Prasejarah Leang-Leang terletak di Kecamatan Batimurung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Di taman ini ada ratusan goa prasejarah yang tersebar di perbukitan cadas (karst) Maros-Pangkep. Dalam bahasa Makassar, leang artinya goa. Serupa dengan kata liang yang artinya lubang.
Hal yang menarik dari tempat ini adalah adanya lukisan-lukisan dinding pada goa-goa di Leang-Leang. Dari gambar-gambar pada dinding goa dan alat-alat yang ditemukan, kita bisa tahu seperti apa kehidupan manusia prasejarah. Salah satu gambar telapak tangan diperkirakan sebagai cap telapak tangan milik salah satu anggota suku yang telah mengikuti ritual potong jari. Ritual itu dilakukan sebagai tanda berduka atas kematian orang terdekatnya. Dan menurut pemandu kami . hal ini dapat dibuktikan di papua ritual potong jari ini masih berlaku sampai saat ini.
Goa Petta Kere
Gambar-gambar di kedua goa banyak yang berwarna merah. Warna tersebut terbuat dari bahan pewarna alami yang dapat meresap kuat ke dalam pori-pori batu sehingga tidak bisa terhapus dan bertahan ribuan tahun. Coba kalau manusia prasejarah itu menggambar dengan grafit (pinsil),
Gambar tangan di goa petta kere.
mudah sekali dihapusnya.Biasanya yang paling pertama menemukan goa adalah para kelelawar. Tapi goa di Leang-Leang ditemukan oleh Mister Van Heekeren dan Miss Heeren Palm. Dua arkeolog Belanda ini menemukan gambar-gambar pada dinding goa (rock painting) di Goa Pettae dan Petta Kere, dua goa di Leang-leang, pada tahun 1950.
Usia lukisan-lukisan purba di Leang-Leang diperkirakan 5.000 tahun. Beberapa arkeolog bahkan berpendapat bahwa beberapa di antara goa tersebut telah didiami sejak 8.000 - 3.000 SM (Sebelum Masehi). Mungkin gambarnya tidak seperti komik-komik yang biasa kita baca, tapi gambar-gambarnya bagus dan menarik Untuk mencapai goa ini wisatawan harus menaiki 26 anak tangga.
Goa Petta Kere berada 300 meter di sebelah Gua Pettae. Untuk mencapai goa ini wisatawan harus mendaki 64 anak tangga. anak tangganya. ya kalau mau ke Goa Petta Kere. Pemandangan yang mengelilingi kawasan Leang-leang sangat indah. Jadi tempat ini cocok untuk wisata budaya juga wisata alam. Di lokasi ini terdapat empat gazebo yang bisa digunakan wisatawan untuk beristirahat. Tempat yang tepat setelah mendaki lebih dari 50 anak tangga.
Leang pettae
Leang Pettae menghadap ke barat. Gambar yang ditemukan pada goa ini adalah lima gambar telapak tangan dan satu gambar babi rusa meloncat dengan anak panah di dadanya. Selain gambar, ditemukan pula artefak serpih, bilah, serta kulit kerang yang terdeposit pada mulut goa.. Peninggalan yang ditemukan pada goa ini adalah dua gambar babi rusa, 27 gambar telapak tangan, alat serpih bilah, dan mata panah.
Sampah dapur yang berupa kulit kerang
salah satu bukti bahwa tempat ini ada kehidupan dengan adanya limbah dapur yang berupa kulit kerang ini juga menbuktikan bahwa di tempat ini juga dahulunya merupakan lautan.
Setelah puas melihat-lihat dan mendapat informasi yang cukup mengenai leang pettae dan leang petta kere kami pun bergegas meninggalkan ke dua goa itu tetapi baru beberapa langkah meninggalkan goa itu tetes-tetes air hujan turun deras kami kemudian berlindung di bawah balai-balai. lagi-lagi ciri khas dari angkatan 2009 terlihat jelas saat hujan pun mereka tetap ngotot untuk di foto, bahkan salah satu dari teman kami yaitu A. Adzan Ashari atau yang biasa kami panggil benjo terjatuh karena berlari untuk di foto setelah dalam perjalanan tadi dia berada di belakang rombongan. Perut semakin tidak bisa komproni, setelah hujan reda saatnya makan siang berhubung dari tadi perut sudah keroncongan. Dengan lahapnya setiap peserta kegiatan ini menghabiskan makanan yang sudah kami pesan dari kampus ini . Hari hampir sore sopir sudah menberi tanda ,para peserta kegiatan ini langsung menuju ke mobil dan mengambil posisinya masing-masing .
Dalam perjalanan pulang para peserta lebih banyak diam karena sudah kelelahan ,setengah jam meninggalkan taman prasejarah leang-leang anak narasi kembali beraksi tetapi kali ini para ceweknya. Mereka berdiri di samping pintu sambil foto-foto awalnya saya melarang takut akan terjadi apa-apa nantinya tetapi mereka terus memaksa jadi saya tidak dapat berbuat apa-apa. Mereka menggodai setiap orang yang di jumpai dalam perjalanan pulang baik itu anak-anak maupun dewasa. Mobil terus melaju dan tidak terasa kami sudah berada di depan kantor rektorat unhas kami turun satu-persatu dari mobil dan langsung mengambil posisi di samping rektorat di bawah papan rektorat kami berfoto bersama dan ini sekaligus akhir dari perjalanan kami.
Langganan:
Postingan (Atom)